Kamis, 08 Februari 2018

Makna dan Sejarah Sila 3: Persatuan Indonesia.


PEMBAHASAN
A.  Defenisi  Sila Ketiga  Persatuan Indonesia
         Persatuan Indonesia merupakan sila ketiga dari Pancasila. Dapat kita baca dalam sejarah,  bahwa Pancasila telah dikukuhkan sebagai dasar negara Republik Indonesia. sebagaimana  sidang  BPUPKI yang pertama, tanggal 29 Mei-1 Juni 1945, yang secara khusus membahas dasar negara Republik Indonesia. Kemudian BPUPKI membentuk suatu badan yang dinamakan Panitia Sembilan, bertugas untuk merumuskan Mukaddimah Undang-Undang Dasar. Panitia Sembilan bentukan Soekarno inilah yang melahirkan Piagam Jakarta yang monumental dan kemudian dilaporkan serta dibahas lagi secara mendalam pada sidang BPUPKI 10 Juli 1945.
Pancasila atau dasar negara Republik Indonesia ini, tercantum dalam pembukaan UUD 1945 pada alinea ke empat (IV). Sebagaimana yang  kita ketahui berbunyi:
“…..maka disusunlah  Kemerdekaan Kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar Negara Indonesia , yang terbentuk dalam suatu susunan Negara Republik Indonesia  yang berkedaulatan rakyat  dengan berdasar kepada Ketuhanan  Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab , Persatuan Indonesia dan Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam Permusyawaratan /Perwakilan , serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.”
Sila ketiga Pancasila berbunyi, Persatuan Indonesia. Disini terdapat beberapa kata,yakni   persatuan dan Indonesia. Walaupun hanya dua  kata, akan tetapi memiliki makna yang mendalam mengingat sejarah, akulturasi budaya, konflik-konflik, dan keamanan di dalam negara Indonesia.   Pancasila sendiri terdiri dari dua kata, panca artinya “lima” dan sila artinya “dasar”.  secara harfiah , Pancasila memiliki pengertian “dasar yang memiliki lima unsur.”[1]  Ir. Soekarno menyebut Pancasila sebagai  Philosofische Grondslag atau fundamen, filsafat, pikiran yang sedalam-dalamnya, jiwa dan hasrat yang sedalam-dalamnya dari Indonesia merdeka yang akan berdiri kekal abadi. Selain itu Ir. Soakarno juga menyebut pancasila sebagai Weltanschauung bangsa dan negara Indonesia.[2] Di dalam Pancasila  terkandung cita-cita , harapan , tujuan untuk membentuk bersatunya Indonesia.
Para ahli menyimpulkan, bahwa Pancasila ialah cerminan dari perjalanan budaya dan karakter  bangsa Indonesia yang telah berlangsung selama berabad-abad lamanya. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Kaelan , kata Pancasila  sudah dijumpai pada kepustakaan Budha  yang berisi tentang prinsip-prinsip moral  yang harus ditaati oleh masyarakat. Masuknya agama Hindu-Budha dari India ke Nusantara  pada akhirnya membawa nilai-nilai tersebut ke dalam  budaya setempat, terutama pada era kekuasaan Majapahit.[3]  Puncak kejayaan majapahit dicapai pada masa pemerintahan raja Hayam Wuruk (1350-1389) dengan Maha Patihnya yang terkenal Gadjah Mada (1319-1364). Kebesarannya ini terdapat di dalam  buku kuno  karangan Mpu Prapanca yang berjudul “Negarakertagama”,. dikatakan juga bahwa kata Pancasila  telah terdapat di dalam buku Negarakertagama maupun buku Sutasoma.[4] Oleh karenanya, kerajaan pada masa lalu seperti Majapahit dapat dipandang sebagai penjelmaan gagasan tentang Negara Persatuan Indonesia.
Agar dapat dipahami dengan baik, ada beberapa hal yang perlu di defenisikan tentang sila yang ke-tiga ini. konsep-konsep yang akan dijelaskan disini ialah persatuan, nasionalisme, negara dan Indonesia.
    1. Persatuan
Persatuan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti : 1) Gabungan    (ikatan,kumpulan) beberapa bagian yang sudah bersatu. 2) perserikatan,setikat.[5]
Tema persatuan ini dalam sejarah Indonesia tidak lepas dari dua peristiwa, yaitu manifesto politik para pemuda pelajar di Negeri Belanda dan Sumpah Pemuda di Indonesia. Kesadaran untuk bersatu akan memperkuat Nasionalisme, demikian juga sebaliknya rasa nasionalisme menguatkan persatuan.
2. Nasionalisme
Sebagaimana diungkapkan diatas bahwa, kesadaran untuk bersatu  akan memperkuat Nasionalisme , sebaliknya juga seperti itu, Nasionalisme  akan memperkuat Persatuan. Persatuan sudah dijelaskan diatas bahwa ia merupakan kumpulan ikatan beberapa bagian yang sudah bersatu. Sedangkan yang dimaksud dengan Nasionalisme, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia yang dimaksud Nasionalisme ialah : 1) paham atau ajaran untuk mencintai bangsa dan negara sendiri ; politik untuk membela pemerintahan sendiri , 2) kesadaran keanggotaan di suatu bangsa yang secara potensial  atau aktual bersama-sama mencapai , mempertahankan,  dan mengabdikan identitas, kemakmuran, dan kekuatan bangsa itu; semangat kebangsaan.
 Ernest Gellner berpendapat dalam bukunya yang berjudul On Nasionalism , mengatakan bahwa  “nationalism is primarily a political principle, which holds that the political and the national unit should be congruent” (Nasionalisme pada dasarnya merupakan suatu prinsip politik , yang menyatakan  bahwa politik dan unit Nasional harus selaras).[6] Dapat dipahami disini, tampaknya Gellner mengaitkan Nasionalisme dengan politik. Memang politik menjadi unsur hakiki pada saat Nasionalisme itu dibicarakan  karena dalam bidang politik berbagai kehidupan bangsa berjalan seiring serta serasi.  lebih dalam lagi, bung Karno menilai Nasionalisme sebagai persatuan dari berbagai golongan .[7] Hal ini karena nasionalisme bukanlah tiruan dari bangsa Barat, akan tetapi nasionalisme tumbuh  atas dasar cinta akan manusia serta kemanusiaan.  Selain itu Sjahrir dalam karyanya yang dipublikasikan dalam bahasa Belanda berjudul Indonesische Overpeinzingen, cukup kritis dalam memahami nasionalisme  yang dipandangnya sebagai proyeksi kejiwaan dari semangat rendah diri dalam sikap kolonial antara penjajah dan kaum terjajah.[8]
Dari beberapa pendapat diatas, dapat disimpulkan sebagaimana juga  diungkapkan oleh John B. Cobo Jr bahwa Nasionalisme pada dasarnya mempunyai dua cirri pokok: pertama, ia memilih tataran tertentu dari hierarki  organisasi politik  dan memberi kedaulatan penuh padanya. Kedua, ia berusaha meletakkan semua kelompok sosial  lain dan berusaha agarmnereka loyal terhadap bangsa.[9]
    3. Negara
Ketika berbicara mengenai Persatuan, berarti kita menyertakan Nasionalime. Dan. ketika kita membahas Nasionalisme, berarti kita menyertakan Negara di dalamnya. Beberapa hal tersebut memiliki keterikatan satu sama lain, maka dari itu perlu juga untuk diketahui mengenai pengertian negara.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, negara ialah : 1) organisasi disuatu wilayah yang mempunyai kekuatan tertinggi yang sah dan ditaati oleh rakyat; 2) kelompok sosial yang menduduki wilayah atau daerah tertentu yang diorganisasi dibawah lembaga politik dan pemerintah yang efektif, mempunyai kesatuan politik , berdaulat sehingga berhak menentukan tujuan nasionalnya.[10]
Kemudian ada beberapa defenisi yang diberikan para pemikir tentang negara. Roger H. Soltau: negara adalah agen (agency) atau kewenangan (authority) yang mengatur persoalan-persoalan  bersama atas nama masyarakat. Harold J. Laski mendefenisikan negara sebagai masyarakat yang diintegrasikan karena mempunyai wewenang yang bersifat memaksa dan yang secara sah lebih berkuasa daripada individu atau kelompok  yang  merupakan bagian dari masyarakat.[11]  Dari beberapa pendapat tersebut dapat ditarik kesimpulan mengenai defenisi negara,  sebagaimana pendapat dari Miriam Budiardjo yang  mengatakan bahwa negara adalah suatu daerah territorial yang rakyatnya diperintah oleh sejumlah pejabat dan yang berhasil menuntut dari warga negaranya ketaatan pada peraturan perundang-undangannya melalui penguasaan  monolotis terhadap kekuasaan yang sah.
4. Indonesia
Selanjutnya tentang Indonesia. Banyak yang tidak tahu bagaimana nama Indonesia itu terbenttuk. Dikatakan bahwa nama Indonesia telah dipakai sejak tahun 1918 . Max Weber dalam karyanya Wirtschaft  und Gesselschaft yang terbit  sebagai jilid III dari Grundriss der sozialekonomik, halaman 624 menyebut nama Indonesien.[12] Yang dimaksudkan dengan Indonesia adalah “Kepulauan Nusantara”. pandangan ini kemudian mendapat revisi karena ternyata nama Indonesia telah dipakai sebelumnya.    Penemuan oleh Kreemer,yang kemudian dimuat dalam Kolonial Weekblad tanggal 3 Februari 1927, bahwa penamaan-penamaan tersebut telah dipakai oleh ilmuwan  berkebangsaan Inggris J.R.Logan dalam Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia, yang berjudul The Ethnology of the Indian Archipelago dari tahun 1850. Menurut Hatta, konsep ini sudah digunakan sebelumnya oleh seorang ilmuwan Inggris yaitu G.W. Earl yang mempergunakan istilah-istilah Indu-nesian  dan Malayunesians sebagai penunjuk untuk penduduk kepulauan ini. Earl menyatakan kata Indu-nesians hanya dalam arti etnologis, sedangkan Logan memberikan kata “Indonesia” suatu pengertian geografis murni. Dalam tanah air sendiri, pada tahun 1918 dalam ‘Hukum Aadat’ Prof. C. Van Vollenhoven secara konsisten menggunakan kata “orang Indonesia”.[13]
Secara politis nama ini dipakai dengan konsekuen oleh Perhimpunan Indonesia sejak tahun 1922 untuk menggantikan nama Hindia-Belanda. Semenjak tahun 1926, nama Indonesia diterima secara resmi oleh Gerakan Perdamaian Internasional Sipil. lebih jauh Hatta menegaskan bahwa nama Indonesia memepunyai arti politik  dan tujuan politik.
dalam arti politik  karena mengandung tuntunan kemerdekaan bukan kemerdekaan Hindia-Belanda , melainkan kemerdekaan Indonesia dari Indonesia (indonesich Indonesie). Dengan demikian  penamaan bangsa ini dengan nama Indonesia memiliki arti penting dalam politik, bukan hanya politik untuk bebas dari penjajah, akan tetapi mengandung makna politik dimasa yang akan datang dengan visi dan misi ingin agar terciptanya suatu tanah air yang berkedaulatan , kemakmuran serta Nasionalisme.
B. Dinamika Persatuan Indonesia
         Apabila melihat proses terbentuknya  kesadaran Nasional, kebangsaan, persatuan maka tidak bisa diungkiri bahwa nasionalisme Indonesia tumbuh berkembang  karena adanya Imperialisme, kolonialisme, atau penjajahan. Situasi karena terbelenggu oleh penjajahan , akhirnya melahirkan perlawanan-perlawanan yang pada awalnya masih terkotak pada wilayah dan kelompok tertentu saja.            Pada abad ke Sembilan belas (19) banyak terjadi pemberontakan di wilayah-wilayah. Ciri khas perlawanan pada abad ke Sembilan belas ini adalah perlawanan berdasarkan etno-religius. Agama dan etnis menjadi latar belakang  pemersatu kelompok-kelompok di daerah, seperti  : Perang Cirebon (1802-1806), Perang Jawa atau Perang Diponegoro (1825-1830), Perang Paderi di Sumatera Barat  (1821-1838), Perang Banjarmasin atau Perang Antasari (1859-1862), Jihad di Cilegon ( 9-30 Juli 1888), dan Perang Aceh (1873-1903).[14]
         Kemenangan kelompok Liberal di Belanda sejak tahun 1848 membawa perubahan yang cukup penting bagi daerah jajahannya.  Pada tanggal 17 September 1901, Ratu Wilhelmina dalam pidato kerajaan setelah sebelumnya mempertimbangkan seruan dari para pembaharu , memandang perlunya untuk memperhatikan  nasib penduduk bumiputra. Pidato Ratu ini dianggap sebagai awal pelaksanaan  politik Etis (Etische Politiek) yang mana di dalamnya terdapat tiga prinsip yaitu: edukasi, irigasi, dan emigrasi. Hal ini membuat perubahan pada rakyat pribumi, dimana pebdidikan mulai diberikan kepada rmereka. Sehingga dengan pendidikan ini secara tidak langsung menghasilkan generasi-generasi yang kritis.
         Dampak dari politik etis tersebut misalnya terjadi di dunia pendidikan. Sekolah Juru Kesehatan Bumiputra atau sekolah Dokter Jawa (School voor inlandsche Geneeskundingen) ditingkatkan menjadi  Sekolah Dokter  Bumiputra (School Tot  Opleiding Van Inlandsche Artsen-STOVIA), lama belajar disini ialah enam tahun. Dari sekolah inilah lahir tokoh-tokoh pemuda Indonesia seperti: Wahidin Sudirohusodo, Suradji, Muh. Saleh,  Muh. Sulaiman, Gunawan Mangunkusumo, dan Sutomo. Kelompok terpelajar ini, menjadi ujung tombak pergerakan dan mengatasi ketakutan para pejabat Bumiputra dengan mendirikan organisasi baru dan modern. Pada tanggal 20 Mei 1908, para siswa STOVIA berhasil mengumpulkan rekan-rekan mereka dari seluruh Jawa , yang mana aula STOVIA menjadi tempat yang dipilih untuk perkumpulan tersebut. Para pemuda itu berasal dari : Cultuurschool (Bogor), OSVIA (Magelang), Normaalschool (Yogyakarta, Bandung, Probolinggo), dan HBS (Surabaya). Kemudian mereka mendirikan Budi Oetomo (BO), yang susunan kepengurusannya ialah antara lain, Sutomo sebagai ketua dan Gunawan serta Suwarno sebagai  sekretaris. pendirian organisasi ini merupakan reaksi terhadap politik Etika yang dilakukan oleh Belanda yang  tujuannya hanya untuk kepentingan Belanda.
         Salah satu organisasi pergerakan yang cukup menggemparkan ialah Serikat Dagang Islam (SDI) yang berdiri di Surakarta pada akhir Januari  tahun 1912. Serikat Dagang Islam kemudian berubah nama menjadi Serikat Islam. diantara yang menjadi tokoh SDI/SI ialah Haji Samanhudi (1882-1956) yang merupakan pendiri SDI di Surakarta dan H.O.S. Tjokroaminoto (1882-1934) yang mendirikan cabang dan menjadi  pemimpin organisasi ini di Surabaya.
         Selain dua oraganisasi diatas, pergerakan Indonesia juga memperkenalkan Indische Partij. IP merupakan partai politik pertama yang lahir di Hindia Belanda dengan pernyataannya yang begitu baru dan radikal. bahkan Mohammad Hatta mengatakan bahwa yang mula-mula sekali mengembangkan  cita-cita kemerdekaan ialah Indische Partij. Organisasi ini berdiri di Bandung, 6 September 1912. para pendirinya ialah E.F.E.Douwes Dekker (1879-1950), Tjipto Mangoenkoesoemo (1889-1943), dan Soewardi Soejaningrat (1889-1959). Ketiga tokoh inilah yang kemudian digelari dengan sebutan tiga serangkai.
         IP memiliki tujuan yang berbeda dari SDI/SI dan Budi utomo yang hanya memperjuangkan kelompok tertentu saja, IP memiliki tujuan yang lebih mulia, yakni hendak menyatukan seluruh penduduk yang mengakui Hindia sebagai tanah air mereka untuk mencapai “Hindia bebas dari Nederland”. Tujuan utama tersebut telah dirumuskan sebagai berikut :
Membangunkan kecintaan (patriotisme) seluruh orang Hindia (Indiers) terhadap tanah air Hindia yang menghidupinya , dan menyatukan mereka berdasarkan  persamaan hak dan kewajiban, untuk membawa kemakmuran bagi tanah air Hindia dan mencapai kehidupan bangsa mereka.

         Kesadaran akan persatuan, nasionalisme, dan kebangsaan tersebut tidak hanya pada para pelajar di Hindia-Belanda, akan tetapi juga oleh pemuda pelajar yang sedang menempuh pendidikan di Belanda. Mereka mendirikan sebuah organisasi juga yang dinamakan Indische  Vereeniging  didirikan  pada 25 Oktober 1908.  Bertempat di hoogewoed 49, Leiden Indische Vereeniging terbentuk dengan ketua R. Sutan Casajangan Soripada dan sekretaris sekaligus bendahara R.M. Sumitro. Organisasi ini bertujuan untuk meningkatkan kepentingan sosial orang Hindia di Nederland serta memelihara hubungan dengan Hindia Belanda.  Di bawah lukman Djajadiningrat , terbitlah majalah Hindia Poetra oleh Suwardi Suryadiningrat. Kemudian pada tanggal 19 Februari 1922, berlangsunglah rapat organisasi ini, yang mana tujuan dari rapat ini adalah pergantian pengurus sekaligus pergantian nama organisasi dari Indische Vereeniging menjadi Indonesische Vereeniging.
         Peran pemuda tidak dapat dipisahkan dari pergerakan menuju persatuan. Para pemuda pada Kongres Pemuda I tanggal 30 April-2 Mei 1926 menekankan persatuan. kemudian pergerakan selanjutnya adalah dibentuknya Panitia Kongres Pemuda II pada bulan Juni. Panitia ini terdiri dari : Soegondo Djojopoespito sebagai ketua dan Djoko Marsaid alias Tirtodiningrat sebagai wakil ketua, serta anggota-anggota lainnya.
         Kongres Pemuda II mengadakan sidang pada tanggal 27-28 Oktober, yang bertempat di Jakarta. Yang mana pada sidang tersebut menghasilkan keputusan kongres yang kita kenal dengan “Sumpah Pemuda”,yaitu:
1.            Satu bangsa – bangsa Indonesia
2.            Satu Tanah air – Tanah air Indonesia
3.            Satu Bahasa – Bahasa Indonesia.[15]
         Kemudian organisasi lainnya yang bertujuan membangun persatuan ialah GAPI (Gabungan Politik Indonesia). GAPI ialah partai-partai politik  yang bersatu , terbentuk pada tahun 1939. GAPI menuntut bukan kemerdekaan penuh bagi Indonesia, tetapi hanya “Berpemerintahan Sendiri”  (Self Government) bagi Indonesia. Hal ini merupakan siasat agar Indonesia dapat scepatnya merdeka. dengan berpemerintahan sendiri Indonesia akan  mendapat wakil yang mayoritas. Mayoritas inilah yang akan memeutuskan Indonesia merdeka. Akan tetapi Belanda menolak tuntutan itu.  Pada tanggal 12 Maret 1942 Belanda menyerahkan Indonesia kepada Jepang yang juga membawa suasana baru dalam memperjuangan persatuan.[16] Jepang bertekuk lutut kepada sekutu setelah sebelumnya Hirosima dan Nagasaki dihantam oleh bom (6 dan 9 Agustus 1945). Momentum ini di manfaatkan oleh para pejuang untuk menyatakan kemerdekaan . Di Indonesia terjadi kekosongan kekuasaan  sehingga pada tanggal 17 Agustus 1945 cita-cita untuk mempersatukan tanah air terkabulkan dengan  dibacakannya proklamasi kemerdekaan oleh Ir. Soekarno.

C. Pemberontakan yang Mengancam Persatuan
Dengan adanya Pancasila maka Revolusi ’45 berhasil untuk merangkum cita-cita kemerdekaan yang bermotivasikan keyakinan keagamaan, cita-cita kemerdekaan yang mengembangkan paham kebangsaan dan demikian juga cita-cita kemerdekaan yang menonjolkan keadilan sosial. Selama bertahun-tahun pergerakan kebangsaan, bung Karno pernah  merumuskan pandangan  pokoknya bahwa untuk mencapai citi-cita kemerdekaan maka haruslah dihindarkan  bahwa Belanda dapat  menjalankan politik taktik pecah-belah  diantara cita-cita kemerdekaan yang bermotivasikan keyakinan kegamaan cita-cita kebangsaan  dan Marxisme.[17]
Dalam sejarah tercatat, bahwa perjalanan Pancasila tidak sepi dari ujian  yang menghadang. Pergolakakan politik paska kemerdekaan diwarnai oleh ancaman terhadap Pancasila  baik dari dalam maupun dari luar. Tidak hanya ketidak puasan daerah terhadap pemerintah pusat yang menimbulkan pemberontakan politik disejumlah kawasan, Indonesia juga harus bersiap menghadapi aksi militer Belanda yang ingin kembali ke Indonesia.
Menurut catatan Anhar Gong-gong, Partai Komunis Indonesia (PKI) tercatat sebagai salah satu kekuatan politik yang pernah ada di Indonesia  dalam pemberontakannya di Madiun (1948) hendak mengubah Pancasila sebagai dasar negara.[18] Sebelum pemberontakan ini terjadi , Pancasila telah sah menjadi dasar negara Republik Indonesia. Tidak sampai disitu, pemberontakan juga menampakan diri di Sulawesi Selatan dan Jawa Barat oleh Darul Islam atau Tentara Islam Indonesia (DI/TII). Dan yang paling memilukan ialah peristiwa Gerakan 30 September  yang dilakukan oleh PKI yang hendak menggantikan ideologi Pancasila dengan ideologi yang lain, sebagaimana akan di bahas di bawah ini.
a)            DI/TII (Daul Islam/ Tentara Islam Indonesia)
Gerakan ini dipelopori oleh Sekarmadji Maridjan Kartosuwiryo. Gerakan ini memiliki tujuan untuk mendirikan Negara Islam Indonesia (NII). Pemberontakan berawal dari Jawa Barat. mereka juga mengadakan proklamasi yang dinamakan dengan Proklamasi Negara Islam Indonesia. ketika proklamasi itu diadakan, Kartosuwiryo selaku pelopor gerakan ini menyatakan secara tegas dalam pidatonya , bahwa mereka menolak konsepsi Pancasila. Pemberontakan kemudian meluas hingga Jawa Tengah, Aceh, Sulawwesi Selatan hingga Kalimantan Selatan.
1). DI/TII Jawa Barat
Pemberontakan DI/TII di Jawa Barat bermula ditanda tanganinya persetujuan perjanjian Renvile. Perjanjian tersebut di tanda tangani oleh pemerintah Republik dengan pihak Belanda pada tanggal 17 dan 19 Januari 1948.[19] Dampak dari perjanjian ini wilayah Indonesia yang diakui Belanda menjadi semakin sempit dan Republik Indonesia harus mengakui kedaulatan Belanda atas wilayah-wilayah yang dikuasainya sehingga terbentuklah Negara Republik Indonesia Serikat (RIS). Selain wilayah RI berkurang, tentara gerilyawan RI yang berada di luar garis demarkasi  Van Mook harus ditarik mundur. Kartosuwiryo dan pasukannya yang terdiri atas Hizbullah dan Sabilillah menolak untuk menyetujui perjanjian tersebut. ia tidak mau menarik mundur pasukannya ke Jawa Tengah dan sejak saat itu ia tidak mengakui lagi keberadaan Republik Indonesia. Kemudian ia mengumandangkan berdirinya Negara Islam Indonesia (NII). Gerakan ini melakukan kekacauan di Jawa Barat. Mereka melakukan penjarahan di rumah-rumah penduduk serta meminta sumbangan kepada rakyat untuk mengatasi serangan pemerintah RI.
Pada tanggal 1 April 1962, dilancarkan operasi Bharatayudha untuk menumpas DI/TII. DI/TII semakin terdesak, satu-persatu komandan mereka menyerahkan diri. Kemudian pada tanggal 4 Juni 1962, Sekarmadji  Marisidjan Kartosuwiryo ditangkap dan dijatuhi hukuman mati. Ia sempat mengajukan grasi kepada Presiden namun ditolak.
2) DI/TII JawaTengah
Pemberontakan DI/TII JawaTengah dipimpin oleh Amir Fattah diseputar wilayah Brebes-Tegal. Ia awalnya adalah orang yang loyal terhadap RI, namun seperti Kartosuwiryo, ia kemudian berbalik memberontak dan bergabung dengan DI/TII Jawa Barat Kartosuwiryo pada 23 Agustus 1949. Untuk melancarkan serangannya, Amir Fattah membentuk sebuaah pasukan dengan nama Tentara Islam Indonesia (TII). Kemudian pasukan yang dibentuk Amir ini diberi julukan Batalyon Syarif Hidayat Widjaja Kusuma.
Selain di wilayah Brebes-Tegal, dibagian selatan Jawa Tengah, Kebumen juga terjadi pemberontakan yang mana pemimpinnya bernamaa Muhammad Mahfudh Abdurrahman atau yang lebih dikenal dengan Kiai Sumolangu. Motifnya juga sama, yakni mendirikan negara Islam. Gerakan ini dilumpuhkan oleh TNI pada tahun 1954 melalui operasi Guntur.
3). DI/TII Sulawesi Selatan
 Pemberontakan DI/TII Sulawesi Selatan yang dipimpin oleh Abdul Kahhar Muzakkar. Latar belakang terjadinya pemberontakan ini berbeda dengan pemberontakan yang terjadi di daerah lain seperti di Jawa Barat dan Jawa Tengah. Sebelum menjadi seorang pemberontak, Kahhar Muzakkar merupakan seorang komandan tentara RI Persiapan Resimen Hasanuddin di Yogyakarta berpangkat kolonel. Ia juga penggagas pembentukan  Tentara Republik Indonesia Persiapan Sulawesi (TRIPS).
Tentara Republik Indonesia Persiapan Sulawesi (TRIPS) beserta laskar-laskar di bawah pimpinan komando Gerilya Sulawesi Selatan ini yang bergerilya di Sulawesi Selatan selama perang kemerdekaan berlangsung. Setelah perang kemerdekaan selesai, pemerintah mengeluarkan kebijakan nasionalisasi laskar-laskar. Dalam nasionalisasi ini, setiap laskar harus malalui seleksi. Namun tak semua laskar dibawah pimpinan Komando Gerilya Sulawesi Selatan yang memenuhi syarat, sedangkan Kahhar Muzakkar menginginkan semua lascar Komando Gerilya Sulawesi Selatan masuk dalam daftar anggota APRIS. Pemerintah tetap tidak mau mengabulkan permintaan Kahhar Muzakkar. Kemudian pada bulan Agustus 1951, Kahhar Muzakkar melarikan diri  ke dalam   hutan dengan membawa perlengkapan  dan pesenjataan yang diperoleh dari pasukannya. Kemudian ia menerima tawaran Kartosuwiryo untuk memegang  pimpinan TII wilayah Sulawesi Selatan. Pada tanggal 7 Agustus 1953, Kahhar Muzakkar     resmi bergabung dengan DI/TII JawaBarat. Setelah diketahui Kahhar Muzakkar resmi bergabung dengan TII, pemerintah segera melancarkan operasi militer ke Sulawesi Selatan. Operasi ini memakan waktu empat belas tahun. DI/TII di Sulawesi Selatan baru benar-benar tumpas pada tahun 1965. Pada Februari 1965, Kahhar Muzakkar tertembak mati dalam kontak senjata dengan pasukan RI.
4)            DI/TII Aceh
Pemberontakan DI/TII di Aceh dipimpin oleh Daud Beureuh. Ia adalah seorang ulama yang terkenal di Aceh pada saat itu. Setelah proklamsai kemerdekaan , terjadi perbedaan pendapat antara kaum alim ulama Aceh dengan para bangsawan. Akhirnya pemerintah pusat turun tangan untuk menyelesaikan pertentangan tersebut supaya tidak terjadi perang saudara. Pemerintah kemudian membentuk Aceh sebagai daerah istimewa setingkat provinsi. Lalu diangkatlah Daud Beureueh sebagai gubernur Aceh.
Namun dalam rangka menyederhanakan administrasi negara, Soekarno pada tahun 1950 menurunkan status Aceh sebagai wilayah kerisidenan dalam provinsi Sumatra Utara. Rakyat Aceh kecewa dengan keputusan ini karena selama perang kemerdekaan tidak sedikit bantuan  yang diberikan aceh untuk negara. Maka tanggal 21 september 1953, Daud Baureuh mengeluarkan maklumat yang menyatakan bahwa aceh menjadi negara islam Indonesia yang diproklamirkan Kartosuwiryo dan memutuskan hubungan dengan Jakarta. Selama pergerakkanya, Daud Baureuh melakukan propaganda –propaganda yang isinya menjelek-jelekan pemerintah Jakarta kepada rakyat aceh. Oleh karena itu, seperti di daerah-daerah lain yang melakukan pemberontakan, pemerintah pusat  melancarkan operasi untuk menumpas DI/TII Aceh.
Atas inisiatif pangdam I bukit barisan, Kolonel Jasin, diadakanlah musyawarah dengan rakyat aceh untuk menyelesaikan permasalahan ini. Dalam musyawarah itu, dibicarakanlah permaslahan dan kesalahpahaman yang terjadi. Akhirnya tercapai kesepakatan dan pemberontakan dapat diselesaikan secara damai.
5). DI/TII Kalimantan Selatan
Pemberontakan DI/TII Kalimantan selatan disebabkan ketidak puasan rakyat yang tergabung dalam Kesatuan Rakyat Jang Tertindas  (KRJT) Kalimantan selatan. KRJT yang dipimpin oleh Ibnu Hajar pada tahun 1950 sering melakukan penyerangan ke pos-pos TNI di Kalimantan selatan. Pada awalnya pemerintah masih memberi kesempatan kepada Ibnu Hajar untuk menyerahkan  diri secara baik-baik. Akhirnya Ibnu Hajar menyerah.
Namun setelah merasa kuat dan banyak memiliki pengikut, Ibnu Hajar kembali membuat kekacauan. Ia bergabung dengan Kartosuwiryo dan DI/TII. Iapun diangkat sebagai panglima TII wilayah Kalimantan selatan pada tahun 1954. Akhirnya TNI melakukan penumpasan pemberontakan DI/TII Kalimantan selatan. Pada tahun 1959 Ibnu Hajar berhasil ditangkap dan dijatuhi hukuman mati pada 22 Maret 1965.
b). Pemberontakan PKI Madiun 1948
 Pada awal Januari 1948 Kabinet Amir dibubarkan . Presiden Soekarno menunjuk Muhammad Hatta untuk mengatur susunan Kabinet baru yang dinamakan kabinet Presidensil, yang memiliki basis nasional yang luas dan kuat (Januari 1948-Desember 1949).[20] Namun Muhammad Hatta menyusun kabinet tanpa memasukan seorangpun menteri dari golongan kiri (sosialis-komunis). Hal inilah yang kemudian ditentang oleh PKI yang dikepalai oleh Musso. Musso menentang susunan Kabinet Muhammad Hatta yang menurutnya telah menjual negara kepada imperialis Belanda. Pertentangan ini menjadi insiden bersenjata.  Puncak dari pemberontakan PKI ini terjadi keetika PKI mengambil alih kekuasaan di Madiun. FDR/PKI memproklamirkan berdirinya negara soviet Indonesia pada tanggal 18 September 1948.
Dalam menumpas pemberontak ini, pemerintah melaksanakan Operasi Militer I yang mana pemimpinnya ialah Kolonel Abdul Haris Nasution. kemudian pada tanggal 30 September 1948 Madiun berhasil direbut kembali oleh pasukan TNI. Dalam penumpasan tersebut Musso berhasil ditembak mati, sementara Amir Syarifuddin dan tokoh-tokoh lainnya tertangkap kemudian dijatuhi hukuman mati.
c). Gerakan 30 September/G30S/GESTAPU/GESTOK
         Gerakan 30 september atau yang sering disingkat G-30S/PKI, GESTAPU (Gerakan September Tiga Puluh), Gestok (Gerakan Satu Oktober) adalah sebuah peristiwa yang terjadi pada tanggal 30 September 1965 hingga 1 Oktober 1965 dini hari dimana enam pejabat tinggi militer Indonesia beserta beberapa  orang lainnya dibunuh dalam suatu usaha pemberontakan  yang disebut pemerintah Orde Baru sebagai usaha Kudeta Partai Komunis Indonesia. Keenam pejabat yang dibunuh itu ialah: Letjen TNI Ahmad Yani (Menteri/Panglima Angkatan Darat/Kepala Staf Komando Operasi Tertinggi), Mayjen TNI Raden Suprapto (Deputi II Menteri/Panglima AD Bidang Administrasi), Maayjen TNI Mas Tirtodarmo Haryono (Deputi III Menteri/Panglima AD bidang Perencanaan dan Pembinaan), Mayjen TNI sisiwondo Parman (Asisten I Menteri/Panglima AD bidang Intelijen), Brigjen TNI Donald Isaac Panjaitan (Asisten IV Menteri/Panglima AD bidang Logistik), Brigjen TNI Sutoyo Siswomiharjo (Inspektur Kehakiman/Oditur Jendral Angkatan Darat). Selain dari keenam Jendral tersebut, Jendral TNI Abdul Haris Nasution yang menjadi sasaran utama selamat dari upaya pembunuhan walaupun dengan luka dikaki. Namun sangat disayangkan putrinya Ade Irma Suryani Nasution beserta ajudannya Lettu CZI Pierre Andreas Tandeas tewas dalam usaha pembunuhan tersebut.[21]
Paska pembunuhan beberapa perwira TNI AD , PKI mampu menguasai dua sarana komunikasi vital yaitu studio RRI di jalan Merdeka Barat dan kantor Telekomunikasi yang terletak di jalan Merdeka Selatan. Melalui RRI, PKI menyiarkan pengumuman tentang Gerakan 30 September yang ditujukan kepada para perwira tinggi anggota “Dewan Jenderal’ yang  akan mengadakan kudeta terhadap pemerintah.[22] Selain itu mereka juga mengumumkan terbentuknya ‘Dewan Revolusi” yang diketuai oleh Letkol Untung Sutopo. 
Beberapa waktu setelah itu, tepatnya pada tanggal 11 Maret 1966 Soekarno memberi Soeharto kekuasaan tak terbatas melalui Surat Perintah Sebelas Maret (SUPERSEMAR). Perintah tersebut berisi untuk mengembalikan ketenangan dan untuk melindungi keamanan pribadi dan wibawanya . Kekuatan tak terbatas tersebut pertama sekali digunakan oleh Soeharto untuk melarang PKI. Kemudian dimulailah proses pemberantasan PKI. Aidit yang telah melarikan diri ditangkap dan dibunuh oleh TNI pada tanggal 24 November.
 Dalam bulan-bulan setelah peristiwa tersebut, semua anggota dan pendukung PKI, atau mereka yang dianggap sebagai anggota dan simpatisan PKI, semua partai kelas buruh yang diketahui dan ratusan ribu pekerja dan petani Indonesia yang lain dibunuh atau dimasukkan ke kamp-kamp tahanan untuk disiksa dan diinterogasi. Pembunuhan-pembunuhan ini terjadi di Jawa Tengah , Jawa Timur dan Bali. Jumlah korban pembunuhan seluruhnya tidak diketahui secara persis, ada yang beranggapan jumlah korbannya ialah 500.000 orang, sementara perkiraan lain menyebut dua hingga tiga juta orang.

d). Pemberontakan PRRI/PERMESTA
Kondisi negara antara tahun 1950-1956 yang menjadi harapan awal pembangunan disegala bidang, ternyata tidak membuahkan hasil yang memuaskan. Kehidupan politik dan demokrasi berjalan tidak efektif, kabinet tidak bertahan lama karena sering jatuh sebelum menjalankan programnya. Pada saat itu juga terjadi ketidak puasan beberapa daerah yang berada di wilayah Sumatra dan Sulawesi terhadap alokasi biaya pembangunan yang diberikan oleh pemerintah pusat. Kondisi ini diperparah dengan tingkat kesejahteraan prajurit dan masyarakat yang sangat rendah.
Ketidakpuasan tersebut akhirnya memicu terbentuknya dewan militer daerah yaitu dewan Banteng yang berada di wilayah Sumatra  Barat. Dewan ini diprakarsai oleh Kolonel Ismail Lengah  bersama dengan ratusan perwira aktif dan para pensiunan yang berasal dari Komando Divisi IX Banteng yang telah dibubarkan tersebut. Dewan ini pada waktu itu dapat mengambil alih pemerintahan Sumatera Tengah dari Gubernur Ruslan Muloharjo, dengan alasan  Ruslan Muloharjo tidak mampu melaksanakan pembangunan secara maksimal.
Selain Dewan Banteng di Sumatera Barat, di Medan terdapat juga Dewan Gajah yang dipimpin oleh Kolonel Maludin Simbolon, Panglima Tentara dan Teritorium I. Serta di Sumatera Selatan terbentuk  Dewan Garuda yang dipimpin oleh Letkol Barlian.
Kemudian PRRI membentuk Dewan Perjuangan serta tidak mengakui kabinet Djuanda. Dewan ini akhirnya membentuk kabinet baru yang disebut Kabinet Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (Kabinet PRRI).  Pada waktu itu Dewan Perjuangan PRRI melalui RRI Padang mengeluarkan pernyataan berupa “Piagam Jakarta” yang berisi sejumlah tuntutan yang ditujukan kepada Presiden Soekarno agar bersedia kembali kepada kedudukan yang konstitusional, menghapus segala akibat dan tindakan yang melanggar UUD 1945 serta membuktikan kesediaannya itu dengan kata dan perbuatan.[23]
Namun tuntutan tersebut ditolak , kemudian PRRI membentuk sebuah pemerintahan dengan anggota kabinetnya. Dalam hal ini, PRRI mendapat dukungan dari PERMESTA dan rakyat setempat. Pada akhirnya PERMESTA dan PRRI  bergabung menjadi satu,sehingga gerakan kedua kelompok tersebut disebut PRRI/PERMESTA. Tokoh PERMESTA terdiri dari beberapa pasukan militer diantaranya ialah Letnan Kolonel D. J Samba, Letnan Kolonel Vantje Sumual, Letnan Kolonel Saleh Lahade, Mayor Runturambi dan Mayor Gerungan.
Pemberontakan tersebut membawa dampak besar terhadap hubungan dan politik luag negeri Indonesia. Pemberontakan tersebut mendapat dukungan dari Amerika serikat[24], Malaysia[25], Filipina, Singapura, Korea Selatan serta Taiwan.
Untuk melancarkan penumpasan terhadap Pemberontakan tersebut, pemerintah membentuk sebuah pasukan Operasi Militer  yang dinamakan Operasi Merdeka pada bulan April 1958. Operasi tersebut dipimpin oleh Letkol Rukminto Hendradiningrat. Pada pertengahan tahun 1961 para tokoh-tokoh yang tergabung dalam gerakan PERMESTA akhirnya menyerahkan diri. Penumpasan tersebut berdampak cukup besar, hal ini dibuktikan adanya pengeboman instansi-instansi penting di  kota Padang, Bukittinggi dan juga Manado oleh Angkatan Udara Republik Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA
William Frederick,Soeri Soeroto,2005,Pemahaman Sejarah Indonesia sebelum dan sesudah Revolusi. Jakarta: Pustaka LP3SE.
Budiyono ,Kabul.2016. Pendidikan Pancasila untuk  Perguruan Tinggi. Bandung : Alfa Beta. Cet. 5
A.Ubaedillah, Abdul Rozak,2003, Pancasila,Demokrasi,HAM, dan Masyarakat Madani.  Jakarta : ICCE UIN Jakarta bekerjasama dengan Prenadamedia Group.
Dowemg Bolo, Andreas dkk,2012,Pancasila Kekuatan Pembebas. Yogyakarta : PT Kanisius.
M. Fic,Victor.2005,Kudeta 1 Oktober 1965:Sebuah Studi tentang Konspirasi.Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1988,Kamus Besar Bahasa Indonesia,Jakarta : Balai Pustaka.
Saelan,Maulawi. 2008.Kesaksian Wakil Komandan Tjakrabirawa: dari Revolusi 45 sampai Kudeta 66.Jakarta: Visimedia.
Anwar,Rosihan.2015,Kisah-kisah Zaman Revolusi Kemerdekaan.Jakarta: Kompas
http://perpustakaancyber.blogspot.co.id/2014/03/peristiwa-pemberontakan-prripermesta.html


       [1] A. Ubaedillah,Abdul Rozak,Pancasila,Demokrasi,HAM,dan Masyarakat Madani. Jakarta: ICCE UIN Jakarta dan Prenada Media Group.2003.hlm.35
      [2] Andreas Doweng Bolo,dkk.Pancasila Kekuatan Pembebas.Yogyakarta: PT Kanisius,2012.hlm.19
       [3] A. Ubaedillah,Abdul Rozak,Pancasila,Demokrasi,HAM,dan Masyarakat Madani.Jakarta: ICCE UIN Jakarta dan Prenada Media Group.2003.hlm.35.
       [4] Budiyono, Kabul.Pendidikan Pancasila untuk Perguruan Tinggi.Bandung : Alfa Beta.2016.cet.kelima.hlm.12
      [5] Departemen Pendidikan dan Kebudayaan,Kamus Besar Bahasa Indonesia,Jakarta : Balai Pustaka,1988.
       [6] Andreas Doweng Bolo,dkk.Pancasila Kekuatan Pembebas.Yogyakarta: PT Kanisius,2012.hlm.162
       [7] ibid.hlm.163
       [8] ibid. hlm.163
       [9] ibid.hlm.164
       [10] Departemen Pendidikan dan Kebudayaan,Kamus Besar Bahasa Indonesia,Jakarta : Balai Pustaka,1988.
       [11]Andreas Doweng Bolo,dkk.Pancasila Kekuatan Pembebas.Yogyakarta: PT Kanisius,2012.hlm.164-165
       [12]ibid.hlm.166
       [13]ibid.
        [14]Ibid.hlm. 167
       [15]Budiyono, Kabul.Pendidikan Pancasila untuk Perguruan Tinggi.Bandung : Alfa Beta.2016.cet.kelima.hlm.16
       [16]Andreas Doweng Bolo,dkk.Pancasila Kekuatan Pembebas.Yogyakarta: PT Kanisius,2012.hlm.175
       [17] William Frederick,Soeri Soeroto,Pemahaman Sejarah Indonesia sebelum dan sesudah Revolusi,Jakarta: Pustaka LP3ES.
       [18] A. Ubaedillah,Abdul Rozak,Pancasila,Demokrasi,HAM,dan Masyarakat Madani. Jakarta: ICCE UIN Jakarta dan Prenada Media Group.2003.hlm.42
       [19] Anwar,Rosihan.Kisah-kisah Zaman Revolusi Kemerdekaan.Jakarta: Kompas,2015.hlm.145
       [20] Saelan,Maulawi.Kesaksian Wakil Komandan Tjakrabirawa: dari Revolusi 45 sampai Kudeta 66.Jakarta: Visimedia,2008.hlm.119
       [21]M. Fic,Victor.Kudeta 1 Oktober 1965:Sebuah Studi tentang Konspirasi.Jakarta: Yayasan Obor Indonesia,2005.hlm.168-169
       [22]https://id.wikipedia.org/wiki/Gerakan_30_September diakses tanggal 22 Desember 2016

      [24]Dukungan dari Amerika Serikat terhadap PRRI/PERMESTA terbukti benar adanya dengan jatuhnya pesawat pengebom B-26 yang dikemudikan oleh seorang pilot bernama Allen Pope (warga Amerika) di lokasi yang tidak jauh dari kota Ambon.
       [25]Malaysia yang baru merdeka pada tahun 1957 mendukung gerakan PRRI dengan menjadikan wilayahnya sebagai saluran utama pemasok senjata  bagi pasukan PRRI.

Metode Tafsir : Tafsir Sahabat

PEMBAHASAN TAFSIR SAHABAT A. Pengertian Sahabat Sebagai Mufassir Tafsir Al-Qur’an telah tumbuh dimasa Nabi Saw. dan beliaulah pena...