Karakteristik Ajaran Islam Nusantara
A. Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Nusantara
Sangat sedikit dan sulit kita
mendapatkan informasi kongkrit, literature atau sumber-sumber sejarah tentang
Islamisasi di Nusantara.Cukup sulit menentukan kapan dan dimana pertama kali
tepatnya Islam masuk di Nusantara.Persoalan mengenai dimana Islam pertama kali
masuk.Ada yang mengatakan di Jawa, da nada yang mengatakan di Barus.Ada dugaan
bahwa sejarah Nusantara sengaja dikaburkan oleh penjajah yang menancapkan
kekuasaannya sejak Malaka ditaklukan oleh portugis pada tahun 1511 M, kemudian
menguasai Ternate pada tahun 1522. Jika kita mencoba menghitung-hitung sambil
melihat awal mula penguasaan portugis atas wilayah Malaka, selanjutnya Belanda
dan Jepang berturut-turut menjajah Nusantara hingga tahun 1945, maka wilayah
kita telah dijajah kurang lebih 434 tahun. Seperti apa yang pernah dikemukakan
oleh Prof. S. Muhammad Naimar (India) dalam sebuah ceramahnya yang dikutip oleh
Yusuf Abdullah Puar” Bahwa bukti-bukti tangan pertama tentang bagaimana
sesungguhnya Islam di pulau-pulau ini tidak mungkin diperoleh, tetapi
bukti-bukti dari luar cukup menunjukkan bahwa peng-Islaman di daerah ini sudah
terjadi sejak permulaan Islam, mungkin sejak Nabi Muhammad SAW masih hidup.
Terdapat beberapa versi tentang
masuknya Islam di Nusantara, antara lain:
1. Pendapat pertama dipelopori oleh
sarjana-sarjan orientalis, diantaranya; Snouck Hugronje berpendapat bahwa Islam
datang ke Indonesia pada abad ke-13 dari Gujarat (bukan dari Arab langsung)
dengan bukti diketemukannya makam Sultan Malik Al-Shaleh yang beragama Islam
pertama, raja pertama kerajaan Samudra Pasai yang berasal dari Gujarat.
2. Pendapat kedua dikemukakan oleh
sarjana-sarjana muslim diantaranya Prof. Hamka, yang berpendapat bahwa islam
sudah datang di Indonesia pada abad Pertama Hijriah (awal abad 7 sampai abad 8
M) langsung dari Arab dengan bukti-bukti jalur pelayaran yang ramai dan
bersifat Internasional sudah dimulai jauh sebelum abad 13 melalui selat Malaka
yang menghubungkan ke Dinasti Tang di Cina (Asia Timur), Sriwijaya di Asia
Tenggara dan Bani Umayyah di Asia Barat.
3. Sarjana muslim kontemporer seperti
Taufik Abdullah mengkompromikan kedua pendapat tersebut. Menurut pendapatnya
bahwa memang bener Islam sudah datang ke Indonesia sejak abad pertama Hijriah
atau abad ke 7 dan 8 M, tetapi baru dianut oleh pedagang Timur Tengah di
pelabuhan secara besar-besaran dan mempunyai kekuatan politik pada abad ke 13
ditandai dengan berdirinya kerajaan Samudera Pasai.
Dari beberapa pendapat di atas kita mendapatkan cukup gambaran
bahwa Islam sudah masuk di Nusantara pada tahun 670 M dengan diketemukannya
sebuah makam Islam di Tapanuli meskipun tidak dapat di pastikan apakah pada saat
itu sudah terbentuk masyarakat muslim yang luas atau tidak. Selanjutnya kita
tetap ,meragukan kebenaran informasi oleh para orientalis bahwa Islam masuk ke
Nusantara pada abad ke 13 karena pada masa itu telah berdiri kerajaan Islam.
Seiring dari beberapa pendapat diatas bahwa
Islam telah masuk ke Indonesia pada abad pertama Hijriah atau abad ke-7 M.
tetapi baru meluas pada abad ke-13 M. Perluasan Islam ditandai berdirinya
kerajaan Islam tertua di Indonesia, seperti Perlak dan Samudra Pasai di Aceh pada
tahun 1292 dan pada tahun 1297. Melalui pusat-pusat perdagangan di daerah
pantai Sumatera Utara dan melalui urat nadi perdagangan di Malaka, agama Islam
kemudian menyebar ke pulau Jawa dan seterusnya ke Indonesia bagian Timur.
Dalam hal ini menurut Mukti Ali, bahwa
sesungguhnya penyiaran Islam di Indonesia, selain memegang ajaran-ajaran Islam
itu gampang dimengerti juga karena kesanggupan pembawa Islam dalam memberikan
konsesi terhadap adat kebiasaan yang ada dan hidup dalam Masyarakat. Sedangkan
Prof. Mahmud Yunus lebih merinci tentang faktor-faktor mengapa Islam dapat
tersebar dengan cepat diseluruh Indonesia pada masa permulaan, yaitu:
1. Agama islam tidak sempit dan tidak berat melakukan
aturan-aturannya, bahkan mudah diturut oleh segala golongan umat manusia,
bahkan untuk masuk islam cukup dengan mengucapkan dua kalimat syahadat saja.
2. Sedikit tugas dan kewajiban Islam.
3. Penyiaran Islam dilakukan secara berangsur-angsur dan sedikit demi
sedikit.
4. Penyiaran Islam dilakukan dengan cara kebijaksanaan dan cara yang
sebaik-baiknya.
5. Penyiaran Islam itu dilakukan dengan perkataan yang mudah dipahami
umum.
Itulah beberapa faktor yang
menyebabkan mudahnya proses Islamisasi di Kepulauan Nusantara, sehingga pada
gilirannya nanti menjadi agama utama dan mayoritas di negeri ini.
B.
Strategi Dakwah Islam di Nusantara
Dari pembahasan
tentang masuknya Islam ke Nusantara dapat dipahami bahwa masuknya agama Islam
ke Indonesia terjadi secara periodik, tidak sekaligus. Pada bagian ini akan
diuraikan mengenai strategi penyebaran Islam dan media yang dipergunakan oleh
para pedagang dan Mubaligh dalam penyebaran Islam di Indonesia. Salah satu
“strategi” yang dimuat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah “rencana yang
cermat mengenai kegiatan untuk mencapai sasaran khusus”.Dalam konteks dakwah
Islam, strategi dakwah yang dimaksud adalah kegiatan-kegiatan yang dilakukan
oleh para mubaligh, yang membawa misi Islam di dalamnya.
Dari kajian di atas dan
berbagai literatur, setidaknya terdapat beberapa kegiatan yang dipergunakan
sebagai kendaraan (sarana) dalam penyebaran Islam di Indonesia, di antaranya
adalah: Perdagangan, perkawinan, pendidikan, kesenian, dan tasawuf.
1.
Perdagangan
Pada tahap awal,
saluran yang dipergunakan dalam proses Islamisasi di Indonesia adalah perdagangan.
Hal itu dapat diketahui melalui adanya kesibukan lalu lintas perdagangan pada
abad ke-7 M hingga abad ke-16 M. Aktivitas perdagangan ini banyak melibatkan
bangsa-bangsa di dunia, termasuk bangsa Arab, Persia, India, Cina, dan
sebagainya. Mereka turut ambil bagian dalam perdagangan di negeri-negeri bagian
Barat, Tenggara, dan Timur Benua Asia.Saluran Islamisasi melalui jalur
perdagangan ini sangat menguntungkan, karena para raja dan bangsawan turut
serta dalam aktivitas perdagangan tersebut.
2.
Perkawinan
Dari aspek ekonomi, para
pedagang muslim memiliki status sosial ekonomi yang lebih baik daripada
kebanyakan penduduk pribumi. Hal ini menyebabkan banyak penduduk pribumi
terutama para wanita, yang tertarik menjadi isteri-isteri para saudagar muslim.
Hanya saja adaketentuan hukum Islam, bahwa para wanita yang akan dinikahi harus
diislamkan terlebih dahulu.
3.
Pendidikan
Proses Islamisasi di
Indonesia juga dilakukan melalui media pendidikan.Para ulama banyak yang
mendirikan lembaga pendidikan Islam, berupa pesantren.Pada lembaga inilah, para
ulama memberikan pengajaran ilmu keislaman melalui berbagai pendekatan sampai
kemudian para santri mampu menyerap pengetahuan keagamaan dengan baik.
4.
Tasawuf
Jalur lain yang
juga tidak kalah pentingnya dalam proses Islamisasi di Indonesia adalah
tasawuf. Salah satu sifat khas dari ajaran ini adalah akomodasi terhadap budaya
lokal, sehingga menyebabkan banyak masyarakat Indonesia yang tertarik menerima
ajaran tersebut. Pada umumnya, para pengajar tasawuf atau para sufi adalah
guru-guru pengembara, dengan sukarela mereka menghayati kemiskinan, juga
seringkali, berhubungan dengan perdagangan, mereka mengajarkan teosofi yang
telah bercampur dengan ajaran yang sudah dikenal luas masyarakat Indonesia.
5.
Kesenian
Saluran Islamisasi
melalui kesenian yang paling terkenal adalah melalui pertunjukan Wayang.Seperti
diketahui bahwa Sunan Kalijaga adalah tokoh yang paling mahir dalam mementaskan
wayang.Dia tidak pernah meminta upah materi dalam setiap pertunjukan yang
dilakukannya.Sunan Kalijaga hanya meminta kepada para penonton untuk
mengikutinya mengucapkan dua kalimat Syahadat. Sebagian besar cerita wayang
masih diambil dari cerita Ramayana dan Mahabrata, tetapi muatannya berisi
ajaran Islam dan nama-nama pahlawan muslim.
6.
Politik
Di Maluku dan
Sulawesi Selatan, kebanyakan rakyat masuk Islam setelah rajanya masuk Islam
terlebih dahulu.Pengaruh politik raja sangat membantu tersebarnya Islam di
wilayah ini.Jalur politik juga ditempuh ketika kerajaan Islam menaklukan
kerajaan non Islam, baik di Sumatera, Jawa, maupun Indonesia bagian Timur.
C.Para Wali dalam perkembangan Islam di Indonesia
Walisongo mempunyai peranan yang sangat besar dalam perkembangan Islam di
Indonesia. Bahkan mereka adalah perintis utama dalam bidang dakwah Islam di
Indonesia, sekaligus pelopor penyiaran Islam di nusantara.
‘Wali’ adalah singkatan dari bahasa Arab, Waliyullah yang berarti ‘orang yang mencintai dan dicintai Allah’ dan Songo berasal dari bahasa Jawa yang berarti ‘sembilan’, sehingga Wali songo merujuk pada wali sembilan yaitu Sembilan orang yang mencintai dan dicintai Allah.
Mereka diberi gelar seperti itu karena mereka dianggap penyiar-penyiar agama Islam dan yang terpenting adalah karena kesungguhan mereka dalam mengajarkan dan menyebarkan Islam. Disamping itu, Para Walisongo adalah intelektual yang menjadi pembaharu masyarakat pada masanya. Pengaruh mereka terasakan dalam beragam bentuk manifestasi peradaban baru masyarakat Jawa, mulai dari kesehatan, bercocok-tanam, perniagaan, kebudayaan, kesenian, kemasyarakatan, hingga kepemerintahan.
Walisongo atau Walisanga dikenal sebagai penyebar agama Islam di tanah Jawa pada abad ke 14. Mereka tinggal di tiga wilayah penting pantai utara Pulau Jawa, yaitu Surabaya-Gresik-Lamongan di Jawa Timur, Demak-Kudus-Muria di Jawa Tengah, dan Cirebon di Jawa Barat.
Era Walisongo adalah era berakhirnya dominasi HinduBudha dalam budaya Nusantara untuk digantikan dengan kebudayaan Islam. Mereka adalah simbol penyebaran Islam di Indonesia, khususnya di Jawa. Tentu banyak tokoh lain yang juga berperan. Namun peranan mereka yang sangat besar dalam mendirikan Kerajaan Islam di Jawa, juga pengaruhnya terhadap kebudayaan masyarakat secara luas serta dakwah secara langsung, membuat para Walisongo ini lebih banyak disebut dibanding yang lain.
Dari nama para Walisongo tersebut, pada umumnya terdapat sembilan nama yang dikenal sebagai anggota Walisongo yang paling terkenal, yaitu:
1. Sunan Gresik atau Maulana Malik Ibrahim
2. Sunan Ampel atau Raden Rahmat
3. Sunan Bonang atau Raden Makhdum Ibrahim
4. Sunan Drajat atau Raden Qasim
5. Sunan Kudus atau Ja'far Shadiq
6. Sunan Giri atau Raden Paku atau Ainul Yaqin
7. Sunan Kalijaga atau Raden Said
8. Sunan Muria atau Raden Umar Said
9. Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah
‘Wali’ adalah singkatan dari bahasa Arab, Waliyullah yang berarti ‘orang yang mencintai dan dicintai Allah’ dan Songo berasal dari bahasa Jawa yang berarti ‘sembilan’, sehingga Wali songo merujuk pada wali sembilan yaitu Sembilan orang yang mencintai dan dicintai Allah.
Mereka diberi gelar seperti itu karena mereka dianggap penyiar-penyiar agama Islam dan yang terpenting adalah karena kesungguhan mereka dalam mengajarkan dan menyebarkan Islam. Disamping itu, Para Walisongo adalah intelektual yang menjadi pembaharu masyarakat pada masanya. Pengaruh mereka terasakan dalam beragam bentuk manifestasi peradaban baru masyarakat Jawa, mulai dari kesehatan, bercocok-tanam, perniagaan, kebudayaan, kesenian, kemasyarakatan, hingga kepemerintahan.
Walisongo atau Walisanga dikenal sebagai penyebar agama Islam di tanah Jawa pada abad ke 14. Mereka tinggal di tiga wilayah penting pantai utara Pulau Jawa, yaitu Surabaya-Gresik-Lamongan di Jawa Timur, Demak-Kudus-Muria di Jawa Tengah, dan Cirebon di Jawa Barat.
Era Walisongo adalah era berakhirnya dominasi HinduBudha dalam budaya Nusantara untuk digantikan dengan kebudayaan Islam. Mereka adalah simbol penyebaran Islam di Indonesia, khususnya di Jawa. Tentu banyak tokoh lain yang juga berperan. Namun peranan mereka yang sangat besar dalam mendirikan Kerajaan Islam di Jawa, juga pengaruhnya terhadap kebudayaan masyarakat secara luas serta dakwah secara langsung, membuat para Walisongo ini lebih banyak disebut dibanding yang lain.
Dari nama para Walisongo tersebut, pada umumnya terdapat sembilan nama yang dikenal sebagai anggota Walisongo yang paling terkenal, yaitu:
1. Sunan Gresik atau Maulana Malik Ibrahim
2. Sunan Ampel atau Raden Rahmat
3. Sunan Bonang atau Raden Makhdum Ibrahim
4. Sunan Drajat atau Raden Qasim
5. Sunan Kudus atau Ja'far Shadiq
6. Sunan Giri atau Raden Paku atau Ainul Yaqin
7. Sunan Kalijaga atau Raden Said
8. Sunan Muria atau Raden Umar Said
9. Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah
1. SUNAN GRESIK atau Maulana Malik Ibrahim
Maulana Malik Ibrahim adalah keturunan ke-22 dari Nabi Muhammad. Ia disebut juga Sunan Gresik, atau Sunan Tandhes, atau Mursyid Akbar Thariqat Wali Songo . Ia diperkirakan lahir di Samarkand di Asia Tengah, pada paruh awal abad ke-14. Babad Tanah Jawi versi Meinsma menyebutnya Asmarakandi, mengikuti pengucapan lidah orang Jawa terhadap As-Samarqandy. Dalam cerita rakyat, ada yang memanggilnya Kakek Bantal. Maulana Malik Ibrahim memiliki, 3 isteri dan 2 anak.
Maulana Malik Ibrahim umumnya dianggap sebagai wali pertama yang mendakwahkan Islam di Jawa. Ia mengajarkan cara-cara baru bercocok tanam dan banyak merangkul rakyat kebanyakan, yaitu golongan masyarakat Jawa yang tersisihkan akhir kekuasaan Majapahit. Malik Ibrahim berusaha menarik hati masyarakat, yang tengah dilanda krisis ekonomi dan perang saudara. Ia membangun pondokan tempat belajar agama di Leran, Gresik. Pada tahun 1419, Malik Ibrahim wafat. Makamnya terdapat di desa Gapura Wetan, Gresik, Jawa Timur.
2. SUNAN AMPEL atau Raden Rahmat
Sunan Ampel adalah Anak Maulana Malik Ibrahim yang tertua. Menurut Babad Tanah Jawi dan Silsilah Sunan Kudus, di masa kecilnya ia dikenal dengan namaRaden Rahmat. Ia lahir di Campa pada 1401 Masehi. Nama Ampel sendiri, diidentikkan dengan nama tempat dimana ia lama bermukim. Di daerah Ampel atau Ampel Denta, wilayah yang kini menjadi bagian dari Surabaya (kota Wonokromo sekarang).
Beberapa versi menyatakan bahwa Sunan Ampel masuk ke pulau Jawa pada tahun 1443 M bersama Sayid Ali Murtadho, sang adik. Tahun 1440, sebelum ke Jawa, mereka singgah dulu di Palembang. Setelah tiga tahun di Palembang, kemudian ia melabuh ke daerah Gresik. Dilanjutkan pergi ke Majapahit menemui bibinya, seorang putri dari Campa, bernama Dwarawati, yang dipersunting salah seorang raja Majapahit beragama Hindu bergelar Prabu Sri Kertawijaya.
Sunan Ampel menikah dengan putri seorang adipati di Tuban. Dari perkawinannya itu ia dikaruniai beberapa putera dan puteri. Diantaranya yang menjadi penerusnya adalah Sunan Bonang dan Sunan Drajat. Ketika Kesultanan Demak (25 kilometer arah selatan kota Kudus) hendak didirikan, Sunan Ampel turut membidani lahirnya kerajaan Islam pertama di Jawa itu. Ia pula yang menunjuk muridnya Raden Patah, putra dari Prabu Brawijaya V raja Majapahit, untuk menjadi Sultan Demak tahun 1475 M.
Sunan Ampel wafat pada tahun 1481 M di Demak dan dimakamkan di sebelah barat Masjid Ampel, Surabaya.
3. SUNAN BONANG atau Raden Makhdum Ibrahim
Sunan Bonang lahir tahun 1465 M dari seorang perempuan bernama Nyi Ageng Manila, puteri seorang adipati di Tuban. Sunan Bonang adalah Anak Sunan Ampel, yang berarti juga cucu Maulana Malik Ibrahim. Pada masa kecilnya, Sunan Bonang memiliki nama Raden Makdum Ibrahim.
Sunan Bonang belajar agama dari pesantren ayahnya di Ampel Denta. Setelah cukup dewasa, ia berkelana untuk berdakwah di berbagai pelosok Pulau Jawa. Mula-mula ia berdakwah di Kediri, yang mayoritas masyarakatnya beragama Hindu. Di sana ia mendirikan Masjid Sangkal Daha.
Ia kemudian menetap di Bonang – desa kecil di Lasem, Jawa Tengah -sekitar 15 kilometer timur kota Rembang. Di desa itu ia membangun tempat pesujudan/zawiyah sekaligus pesantren yang kini dikenal dengan nama Watu Layar. Ia kemudian dikenal pula sebagai imam resmi pertama Kesultanan Demak, dan bahkan sempat menjadi panglima tertinggi. Meskipun demikian, Sunan Bonang tak pernah menghentikan kebiasaannya untuk berkelana ke daerah-daerah yang sangat sulit.
Ia acap berkunjung ke daerah-daerah terpencil di Tuban, Pati, Madura maupun Pulau Bawean. Di Pulau inilah, pada 1525 M ia meninggal. Jenazahnya dimakamkan di Tuban, di sebelah barat Masjid Agung, setelah sempat diperebutkan oleh masyarakat Bawean dan Tuban.
Tak seperti Sunan Giri yang lugas dalam fikih, ajaran Sunan Bonang memadukan ajaran ahlussunnah bergaya tasawuf dan garis salaf ortodoks. Ia menguasai ilmu fikih, usuludin, tasawuf, seni, sastra dan arsitektur. Masyarakat juga mengenal Sunan Bonang sebagai seorang yang piawai mencari sumber air di tempat-tempat gersang.
Sunan Bonang banyak melahirkan karya sastra berupa suluk, atau tembang tamsil. Salah satunya adalah “Suluk Wijil” yang tampak dipengaruhi kitab Al Shidiq karya Abu Sa’id Al Khayr (wafat pada 899). Suluknya banyak menggunakan tamsil cermin, bangau atau burung laut. Sebuah pendekatan yang juga digunakan oleh Ibnu Arabi, Fariduddin Attar, Rumi serta Hamzah Fansuri.
Sunan Bonang juga menggubah gamelan Jawa yang saat itu kental dengan estetika Hindu, dengan memberi nuansa baru. Dialah yang menjadi kreator gamelan Jawa seperti sekarang, dengan menambahkan instrumen bonang. Gubahannya ketika itu memiliki nuansa dzikir yang mendorong kecintaan pada kehidupan transedental (alam malakut). Tembang “Tombo Ati” adalah salah satu karya Sunan Bonang.
Dalam pentas pewayangan, Sunan Bonang adalah dalang yang piawai membius penontonnya. Kegemarannya adalah menggubah lakon dan memasukkan tafsir-tafsir khas Islam. Kisah perseteruan Pandawa-Kurawa ditafsirkan Sunan Bonang sebagai peperangan antara nafi (peniadaan) dan ‘isbah (peneguhan).
4. SUNAN DRAJAT atau Raden Qasim
Sunan Drajat adalah putra Sunan Ampel, dan merupakan keturunan ke-23 dari Nabi Muhammad. Ia adalah putra Sunan Ampel dengan Nyai Ageng Manila, putri adipati Tuban bernama Arya Teja. Sunan Drajat banyak berdakwah kepada masyarakat kebanyakan. Ia menekankan kedermawanan, kerja keras, dan peningkatan kemakmuran masyarakat, sebagai pengamalan dari agama Islam. Pesantren Sunan Drajat dijalankan secara mandiri sebagai wilayah perdikan, bertempat di Desa Drajat, Kecamatan Paciran, Lamongan. Tembang macapat Pangkur disebutkan sebagai ciptaannya. Gamelan Singomengkok peninggalannya terdapat di Musium Daerah Sunan Drajat, Lamongan. Sunan Drajat diperkirakan wafat wafat pada 1522.
5. SUNAN KUDUS atau Ja'far Shadiq
Sunan Kudus adalah putra Sunan Ngudung atau Raden Usman Haji, dengan Syarifah Ruhil atau Dewi Ruhil yang bergelar Nyai Anom Manyuran binti Nyai Ageng Melaka binti Sunan Ampel. Sunan Kudus adalah keturunan ke-24 dari Nabi Muhammad. Sunan Kudus bin Sunan Ngudung bin Fadhal Ali Murtadha bin Ibrahim Zainuddin Al-Akbar bin Jamaluddin Al-Husain bin Ahmad Jalaluddin bin Abdillah bin Abdul Malik Azmatkhan bin Alwi Ammil Faqih bin Muhammad Shahib Mirbath bin Ali Khali’ Qasam bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad Al-Muhajir bin Isa bin Muhammad bin Ali Al-Uraidhi bin Ja’far Shadiq bin Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Al-Husain bin Sayyidah Fathimah Az-Zahra binti Nabi Muhammad Rasulullah. Sebagai seorang wali, Sunan Kudus memiliki peran yang besar dalam pemerintahan Kesultanan Demak, yaitu sebagai panglima perang, penasehat Sultan Demak, Mursyid Thariqah dan hakim peradilan negara. Ia banyak berdakwah di kalangan kaum penguasa dan priyayi Jawa. Di antara yang pernah menjadi muridnya, ialah Sunan Prawoto penguasa Demak, dan Arya Penangsang adipati Jipang Panolan. Salah satu peninggalannya yang terkenal ialah Mesjid Menara Kudus, yang arsitekturnya bergaya campuran Hindu dan Islam. Sunan Kudus diperkirakan wafat pada tahun 1550.
6. SUNAN GIRI atau Raden Paku atau Ainul Yaqin
Ia memiliki nama kecil Raden Paku, alias Muhammad Ainul Yakin. Sunan Giri lahir di Blambangan (kini Banyuwangi) pada 1442 M. Ada juga yang menyebutnya Jaka Samudra. Sebuah nama yang dikaitkan dengan masa kecilnya yang pernah dibuang oleh keluarga ibunya, seorang putri raja Blambangan bernama Dewi Sekardadu ke laut. Raden Paku kemudian dipungut anak oleh Nyai Semboja (Babad Tanah Jawi versi Meinsma).
Ayahnya adalah Maulana Ishak. saudara sekandung Maulana Malik Ibrahim. Maulana Ishak berhasil meng-Islamkan isterinya, tapi gagal mengislamkan sang mertua. Oleh karena itulah ia meninggalkan keluarga isterinya berkelana hingga ke Samudra Pasai.
Sunan Giri kecil menuntut ilmu di pesantren misannya, Sunan Ampel, tempat dimana Raden Patah juga belajar. Ia sempat berkelana ke Malaka dan Pasai. Setelah merasa cukup ilmu, ia membuka pesantren di daerah perbukitan Desa Sidomukti, Selatan Gresik. Dalam bahasa Jawa, bukit adalah “giri”. Maka ia dijuluki Sunan Giri.
Pesantrennya tak hanya dipergunakan sebagai tempat pendidikan dalam arti sempit, namun juga sebagai pusat pengembangan masyarakat. Raja Majapahit -
konon karena khawatir Sunan Giri mencetuskan pemberontakan- memberi keleluasaan padanya untuk mengatur pemerintahan. Maka pesantren itupun berkembang menjadi salah satu pusat kekuasaan yang disebut Giri Kedaton. Sebagai pemimpin pemerintahan, Sunan Giri juga disebut sebagai Prabu Satmata.
Giri Kedaton tumbuh menjadi pusat politik yang penting di Jawa, waktu itu. Ketika Raden Patah melepaskan diri dari Majapahit, Sunan Giri malah bertindak sebagai penasihat dan panglima militer Kesultanan Demak. Hal tersebut tercatat dalam Babad Demak. Selanjutnya, Demak tak lepas dari pengaruh Sunan Giri. Ia diakui juga sebagai mufti, pemimpin tertinggi keagamaan, se-Tanah Jawa.
Giri Kedaton bertahan hingga 200 tahun. Salah seorang penerusnya, Pangeran Singosari, dikenal sebagai tokoh paling gigih menentang kolusi VOC dan Amangkurat II pada Abad 18.
Para santri pesantren Giri juga dikenal sebagai penyebar Islam yang gigih ke berbagai pulau, seperti Bawean, Kangean, Madura, Haruku, Ternate, hingga Nusa Tenggara. Penyebar Islam ke Sulawesi Selatan, Datuk Ribandang dan dua sahabatnya, adalah murid Sunan Giri yang berasal dari Minangkabau.
Dalam keagamaan, ia dikenal karena pengetahuannya yang luas dalam ilmu fikih. Orang-orang pun menyebutnya sebagai Sultan Abdul Fakih. Ia juga pecipta karya seni yang luar biasa. Permainan anak seperti Jelungan, Jamuran, lir-ilir dan cublak suweng disebut sebagai kreasi Sunan Giri. Demikian pula Gending Asmaradana dan Pucung -lagi bernuansa Jawa namun syarat dengan ajaran Islam.
7. SUNAN KALIJAGA atau Raden Said
Sunan Kalijaga, merupakan “wali” yang namanya paling banyak disebut masyarakat Jawa. Ia lahir sekitar tahun 1450 Masehi. Ayahnya adalah Arya Wilatikta, Adipati Tuban -keturunan dari tokoh pemberontak Majapahit, Ronggolawe. Masa itu, Arya Wilatikta diperkirakan telah menganut Islam.
Nama kecil Sunan Kalijaga adalah Raden Said. Ia juga memiliki sejumlah nama panggilan seperti Lokajaya,Syekh Malaya, Pangeran Tuban atau Raden Abdurrahman.Terdapat beragam versi menyangkut asal-usul nama Kalijaga yang disandangnya.
Masyarakat Cirebon berpendapat bahwa nama itu berasal dari dusun Kalijaga di Cirebon. Sunan Kalijaga memang pernah tinggal di Cirebon dan bersahabat erat dengan Sunan Gunung Jati. Kalangan Jawa mengaitkannya dengan kesukaan wali ini untuk berendam (‘kungkum’) di sungai (kali) atau “jaga kali”. Namun ada yang menyebut istilah itu berasal dari bahasa Arab “qadli dzaqa” yang menunjuk statusnya sebagai ” penghulu suci” kesultanan.
Masa hidup Sunan Kalijaga diperkirakan mencapai lebih dari 100 tahun. Dengan demikian ia mengalami masa akhir kekuasaan Majapahit (berakhir 1478), Kesultanan Demak, Kesultanan Cirebon dan Banten, bahkan juga Kerajaan Pajang yang lahir pada 1546 serta awal kehadiran Kerajaan Mataram dibawah pimpinan Panembahan Senopati. Ia ikut pula merancang pembangunan Masjid Agung Cirebon dan Masjid Agung Demak. Tiang “tatal” (pecahan kayu) yang merupakan salah satu dari tiang utama masjid adalah kreasi Sunan Kalijaga.
Dalam dakwah, ia punya pola yang sama dengan mentor sekaligus sahabat dekatnya, Sunan Bonang. Paham keagamaannya cenderung “sufistik berbasis salaf” -bukan sufi panteistik (pemujaan semata). Ia juga memilih kesenian dan kebudayaan sebagai sarana untuk berdakwah.
Ia sangat toleran pada budaya lokal. Ia berpendapat bahwa masyarakat akan menjauh jika diserang pendiriannya. Maka mereka harus didekati secara bertahap: mengikuti sambil mempengaruhi. Sunan Kalijaga berkeyakinan jika Islam sudah dipahami, dengan sendirinya kebiasaan lama hilang.
Dialah pencipta Baju takwa, perayaan sekatenan, grebeg maulud, Layang Kalimasada, lakon wayang Petruk Jadi Raja. Lanskap pusat kota berupa Kraton, alun-alun dengan dua beringin serta masjid diyakini sebagai karya Sunan Kalijaga.
Metode dakwah tersebut sangat efektif. Sebagian besar adipati di Jawa memeluk Islam melalui Sunan Kalijaga. Di antaranya adalah Adipati Padanaran, Kartasura, Kebumen, Banyumas, serta Pajang (sekarang Kotagede – Yogya). Sunan Kalijaga dimakamkan di Kadilangu -selatan Demak.
8. SUNAN MURIA atau Raden Umar Said
Ia putra Dewi Saroh – adik kandung Sunan Giri sekaligus anak Syekh Maulana Ishak, dengan Sunan Kalijaga Nama kecilnya adalah Raden Prawoto. Nama Muria diambil dari tempat tinggal terakhirnya di lereng Gunung Muria, 18 kilometer ke utara kota Kudus.
Gaya berdakwahnya banyak mengambil cara ayahnya, Sunan Kalijaga. Namun berbeda dengan sang ayah, Sunan Muria lebih suka tinggal di daerah sangat terpencil dan jauh dari pusat kota untuk menyebarkan agama Islam. Bergaul dengan rakyat jelata, sambil mengajarkan keterampilan-keterampilan bercocok tanam, berdagang dan melaut adalah kesukaannya.
Sunan Muria seringkali dijadikan pula sebagai penengah dalam konflik internal di Kesultanan Demak (1518-1530), Ia dikenal sebagai pribadi yang mampu memecahkan berbagai masalah betapapun rumitnya masalah itu. Solusi pemecahannya pun selalu dapat diterima oleh semua pihak yang berseteru. Sunan Muria berdakwah dari Jepara, Tayu, Juana hingga sekitar Kudus dan Pati. Salah satu hasil dakwahnya lewat seni adalah lagu Sinom dan Kinanti.
9. SUNAN GUNUNG JATI atau Syarif Hidayatullah
Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah diperkirakan lahir sekitar tahun 1448 M. Ibunya adalah Nyai Rara Santang, putri dari raja Pajajaran Raden Manah Rarasa. Sedangkan ayahnya adalah Sultan Syarif Abdullah Maulana Huda, pembesar Mesir keturunan Bani Hasyim dari Palestina.
Syarif Hidayatullah mendalami ilmu agama sejak berusia 14 tahun dari para ulama Mesir. Ia sempat berkelana ke berbagai negara. Menyusul berdirinya Kesultanan Bintoro Demak, dan atas restu kalangan ulama lain, ia mendirikan Kasultanan Cirebon yang juga dikenal sebagai Kasultanan Pakungwati.
Dengan demikian, Sunan Gunung Jati adalah satu-satunya “wali songo” yang memimpin pemerintahan. Sunan Gunung Jati memanfaatkan pengaruhnya sebagai putra Raja Pajajaran untuk menyebarkan Islam dari pesisir Cirebon ke pedalaman Pasundan atau Priangan.
Dalam berdakwah, ia menganut kecenderungan Timur Tengah yang lugas. Namun ia juga mendekati rakyat dengan membangun infrastruktur berupa jalan-jalan yang menghubungkan antar wilayah.
Bersama putranya, Maulana Hasanuddin, Sunan Gunung Jati juga melakukan ekspedisi ke Banten. Penguasa setempat, Pucuk Umum, menyerahkan sukarela penguasaan wilayah Banten tersebut yang kemudian menjadi cikal bakal Kesultanan Banten.
Pada usia 89 tahun, Sunan Gunung Jati mundur dari jabatannya untuk hanya menekuni dakwah. Kekuasaan itu diserahkannya kepada Pangeran Pasarean. Pada tahun 1568 M, Sunan Gunung Jati wafat dalam usia 120 tahun, di Cirebon (dulu Carbon). Ia dimakamkan di daerah Gunung Sembung, Gunung Jati, sekitar 15 kilometer sebelum kota Cirebon dari arah barat.
Maulana Malik Ibrahim adalah keturunan ke-22 dari Nabi Muhammad. Ia disebut juga Sunan Gresik, atau Sunan Tandhes, atau Mursyid Akbar Thariqat Wali Songo . Ia diperkirakan lahir di Samarkand di Asia Tengah, pada paruh awal abad ke-14. Babad Tanah Jawi versi Meinsma menyebutnya Asmarakandi, mengikuti pengucapan lidah orang Jawa terhadap As-Samarqandy. Dalam cerita rakyat, ada yang memanggilnya Kakek Bantal. Maulana Malik Ibrahim memiliki, 3 isteri dan 2 anak.
Maulana Malik Ibrahim umumnya dianggap sebagai wali pertama yang mendakwahkan Islam di Jawa. Ia mengajarkan cara-cara baru bercocok tanam dan banyak merangkul rakyat kebanyakan, yaitu golongan masyarakat Jawa yang tersisihkan akhir kekuasaan Majapahit. Malik Ibrahim berusaha menarik hati masyarakat, yang tengah dilanda krisis ekonomi dan perang saudara. Ia membangun pondokan tempat belajar agama di Leran, Gresik. Pada tahun 1419, Malik Ibrahim wafat. Makamnya terdapat di desa Gapura Wetan, Gresik, Jawa Timur.
2. SUNAN AMPEL atau Raden Rahmat
Sunan Ampel adalah Anak Maulana Malik Ibrahim yang tertua. Menurut Babad Tanah Jawi dan Silsilah Sunan Kudus, di masa kecilnya ia dikenal dengan namaRaden Rahmat. Ia lahir di Campa pada 1401 Masehi. Nama Ampel sendiri, diidentikkan dengan nama tempat dimana ia lama bermukim. Di daerah Ampel atau Ampel Denta, wilayah yang kini menjadi bagian dari Surabaya (kota Wonokromo sekarang).
Beberapa versi menyatakan bahwa Sunan Ampel masuk ke pulau Jawa pada tahun 1443 M bersama Sayid Ali Murtadho, sang adik. Tahun 1440, sebelum ke Jawa, mereka singgah dulu di Palembang. Setelah tiga tahun di Palembang, kemudian ia melabuh ke daerah Gresik. Dilanjutkan pergi ke Majapahit menemui bibinya, seorang putri dari Campa, bernama Dwarawati, yang dipersunting salah seorang raja Majapahit beragama Hindu bergelar Prabu Sri Kertawijaya.
Sunan Ampel menikah dengan putri seorang adipati di Tuban. Dari perkawinannya itu ia dikaruniai beberapa putera dan puteri. Diantaranya yang menjadi penerusnya adalah Sunan Bonang dan Sunan Drajat. Ketika Kesultanan Demak (25 kilometer arah selatan kota Kudus) hendak didirikan, Sunan Ampel turut membidani lahirnya kerajaan Islam pertama di Jawa itu. Ia pula yang menunjuk muridnya Raden Patah, putra dari Prabu Brawijaya V raja Majapahit, untuk menjadi Sultan Demak tahun 1475 M.
Sunan Ampel wafat pada tahun 1481 M di Demak dan dimakamkan di sebelah barat Masjid Ampel, Surabaya.
3. SUNAN BONANG atau Raden Makhdum Ibrahim
Sunan Bonang lahir tahun 1465 M dari seorang perempuan bernama Nyi Ageng Manila, puteri seorang adipati di Tuban. Sunan Bonang adalah Anak Sunan Ampel, yang berarti juga cucu Maulana Malik Ibrahim. Pada masa kecilnya, Sunan Bonang memiliki nama Raden Makdum Ibrahim.
Sunan Bonang belajar agama dari pesantren ayahnya di Ampel Denta. Setelah cukup dewasa, ia berkelana untuk berdakwah di berbagai pelosok Pulau Jawa. Mula-mula ia berdakwah di Kediri, yang mayoritas masyarakatnya beragama Hindu. Di sana ia mendirikan Masjid Sangkal Daha.
Ia kemudian menetap di Bonang – desa kecil di Lasem, Jawa Tengah -sekitar 15 kilometer timur kota Rembang. Di desa itu ia membangun tempat pesujudan/zawiyah sekaligus pesantren yang kini dikenal dengan nama Watu Layar. Ia kemudian dikenal pula sebagai imam resmi pertama Kesultanan Demak, dan bahkan sempat menjadi panglima tertinggi. Meskipun demikian, Sunan Bonang tak pernah menghentikan kebiasaannya untuk berkelana ke daerah-daerah yang sangat sulit.
Ia acap berkunjung ke daerah-daerah terpencil di Tuban, Pati, Madura maupun Pulau Bawean. Di Pulau inilah, pada 1525 M ia meninggal. Jenazahnya dimakamkan di Tuban, di sebelah barat Masjid Agung, setelah sempat diperebutkan oleh masyarakat Bawean dan Tuban.
Tak seperti Sunan Giri yang lugas dalam fikih, ajaran Sunan Bonang memadukan ajaran ahlussunnah bergaya tasawuf dan garis salaf ortodoks. Ia menguasai ilmu fikih, usuludin, tasawuf, seni, sastra dan arsitektur. Masyarakat juga mengenal Sunan Bonang sebagai seorang yang piawai mencari sumber air di tempat-tempat gersang.
Sunan Bonang banyak melahirkan karya sastra berupa suluk, atau tembang tamsil. Salah satunya adalah “Suluk Wijil” yang tampak dipengaruhi kitab Al Shidiq karya Abu Sa’id Al Khayr (wafat pada 899). Suluknya banyak menggunakan tamsil cermin, bangau atau burung laut. Sebuah pendekatan yang juga digunakan oleh Ibnu Arabi, Fariduddin Attar, Rumi serta Hamzah Fansuri.
Sunan Bonang juga menggubah gamelan Jawa yang saat itu kental dengan estetika Hindu, dengan memberi nuansa baru. Dialah yang menjadi kreator gamelan Jawa seperti sekarang, dengan menambahkan instrumen bonang. Gubahannya ketika itu memiliki nuansa dzikir yang mendorong kecintaan pada kehidupan transedental (alam malakut). Tembang “Tombo Ati” adalah salah satu karya Sunan Bonang.
Dalam pentas pewayangan, Sunan Bonang adalah dalang yang piawai membius penontonnya. Kegemarannya adalah menggubah lakon dan memasukkan tafsir-tafsir khas Islam. Kisah perseteruan Pandawa-Kurawa ditafsirkan Sunan Bonang sebagai peperangan antara nafi (peniadaan) dan ‘isbah (peneguhan).
4. SUNAN DRAJAT atau Raden Qasim
Sunan Drajat adalah putra Sunan Ampel, dan merupakan keturunan ke-23 dari Nabi Muhammad. Ia adalah putra Sunan Ampel dengan Nyai Ageng Manila, putri adipati Tuban bernama Arya Teja. Sunan Drajat banyak berdakwah kepada masyarakat kebanyakan. Ia menekankan kedermawanan, kerja keras, dan peningkatan kemakmuran masyarakat, sebagai pengamalan dari agama Islam. Pesantren Sunan Drajat dijalankan secara mandiri sebagai wilayah perdikan, bertempat di Desa Drajat, Kecamatan Paciran, Lamongan. Tembang macapat Pangkur disebutkan sebagai ciptaannya. Gamelan Singomengkok peninggalannya terdapat di Musium Daerah Sunan Drajat, Lamongan. Sunan Drajat diperkirakan wafat wafat pada 1522.
5. SUNAN KUDUS atau Ja'far Shadiq
Sunan Kudus adalah putra Sunan Ngudung atau Raden Usman Haji, dengan Syarifah Ruhil atau Dewi Ruhil yang bergelar Nyai Anom Manyuran binti Nyai Ageng Melaka binti Sunan Ampel. Sunan Kudus adalah keturunan ke-24 dari Nabi Muhammad. Sunan Kudus bin Sunan Ngudung bin Fadhal Ali Murtadha bin Ibrahim Zainuddin Al-Akbar bin Jamaluddin Al-Husain bin Ahmad Jalaluddin bin Abdillah bin Abdul Malik Azmatkhan bin Alwi Ammil Faqih bin Muhammad Shahib Mirbath bin Ali Khali’ Qasam bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad Al-Muhajir bin Isa bin Muhammad bin Ali Al-Uraidhi bin Ja’far Shadiq bin Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Al-Husain bin Sayyidah Fathimah Az-Zahra binti Nabi Muhammad Rasulullah. Sebagai seorang wali, Sunan Kudus memiliki peran yang besar dalam pemerintahan Kesultanan Demak, yaitu sebagai panglima perang, penasehat Sultan Demak, Mursyid Thariqah dan hakim peradilan negara. Ia banyak berdakwah di kalangan kaum penguasa dan priyayi Jawa. Di antara yang pernah menjadi muridnya, ialah Sunan Prawoto penguasa Demak, dan Arya Penangsang adipati Jipang Panolan. Salah satu peninggalannya yang terkenal ialah Mesjid Menara Kudus, yang arsitekturnya bergaya campuran Hindu dan Islam. Sunan Kudus diperkirakan wafat pada tahun 1550.
6. SUNAN GIRI atau Raden Paku atau Ainul Yaqin
Ia memiliki nama kecil Raden Paku, alias Muhammad Ainul Yakin. Sunan Giri lahir di Blambangan (kini Banyuwangi) pada 1442 M. Ada juga yang menyebutnya Jaka Samudra. Sebuah nama yang dikaitkan dengan masa kecilnya yang pernah dibuang oleh keluarga ibunya, seorang putri raja Blambangan bernama Dewi Sekardadu ke laut. Raden Paku kemudian dipungut anak oleh Nyai Semboja (Babad Tanah Jawi versi Meinsma).
Ayahnya adalah Maulana Ishak. saudara sekandung Maulana Malik Ibrahim. Maulana Ishak berhasil meng-Islamkan isterinya, tapi gagal mengislamkan sang mertua. Oleh karena itulah ia meninggalkan keluarga isterinya berkelana hingga ke Samudra Pasai.
Sunan Giri kecil menuntut ilmu di pesantren misannya, Sunan Ampel, tempat dimana Raden Patah juga belajar. Ia sempat berkelana ke Malaka dan Pasai. Setelah merasa cukup ilmu, ia membuka pesantren di daerah perbukitan Desa Sidomukti, Selatan Gresik. Dalam bahasa Jawa, bukit adalah “giri”. Maka ia dijuluki Sunan Giri.
Pesantrennya tak hanya dipergunakan sebagai tempat pendidikan dalam arti sempit, namun juga sebagai pusat pengembangan masyarakat. Raja Majapahit -
konon karena khawatir Sunan Giri mencetuskan pemberontakan- memberi keleluasaan padanya untuk mengatur pemerintahan. Maka pesantren itupun berkembang menjadi salah satu pusat kekuasaan yang disebut Giri Kedaton. Sebagai pemimpin pemerintahan, Sunan Giri juga disebut sebagai Prabu Satmata.
Giri Kedaton tumbuh menjadi pusat politik yang penting di Jawa, waktu itu. Ketika Raden Patah melepaskan diri dari Majapahit, Sunan Giri malah bertindak sebagai penasihat dan panglima militer Kesultanan Demak. Hal tersebut tercatat dalam Babad Demak. Selanjutnya, Demak tak lepas dari pengaruh Sunan Giri. Ia diakui juga sebagai mufti, pemimpin tertinggi keagamaan, se-Tanah Jawa.
Giri Kedaton bertahan hingga 200 tahun. Salah seorang penerusnya, Pangeran Singosari, dikenal sebagai tokoh paling gigih menentang kolusi VOC dan Amangkurat II pada Abad 18.
Para santri pesantren Giri juga dikenal sebagai penyebar Islam yang gigih ke berbagai pulau, seperti Bawean, Kangean, Madura, Haruku, Ternate, hingga Nusa Tenggara. Penyebar Islam ke Sulawesi Selatan, Datuk Ribandang dan dua sahabatnya, adalah murid Sunan Giri yang berasal dari Minangkabau.
Dalam keagamaan, ia dikenal karena pengetahuannya yang luas dalam ilmu fikih. Orang-orang pun menyebutnya sebagai Sultan Abdul Fakih. Ia juga pecipta karya seni yang luar biasa. Permainan anak seperti Jelungan, Jamuran, lir-ilir dan cublak suweng disebut sebagai kreasi Sunan Giri. Demikian pula Gending Asmaradana dan Pucung -lagi bernuansa Jawa namun syarat dengan ajaran Islam.
7. SUNAN KALIJAGA atau Raden Said
Sunan Kalijaga, merupakan “wali” yang namanya paling banyak disebut masyarakat Jawa. Ia lahir sekitar tahun 1450 Masehi. Ayahnya adalah Arya Wilatikta, Adipati Tuban -keturunan dari tokoh pemberontak Majapahit, Ronggolawe. Masa itu, Arya Wilatikta diperkirakan telah menganut Islam.
Nama kecil Sunan Kalijaga adalah Raden Said. Ia juga memiliki sejumlah nama panggilan seperti Lokajaya,Syekh Malaya, Pangeran Tuban atau Raden Abdurrahman.Terdapat beragam versi menyangkut asal-usul nama Kalijaga yang disandangnya.
Masyarakat Cirebon berpendapat bahwa nama itu berasal dari dusun Kalijaga di Cirebon. Sunan Kalijaga memang pernah tinggal di Cirebon dan bersahabat erat dengan Sunan Gunung Jati. Kalangan Jawa mengaitkannya dengan kesukaan wali ini untuk berendam (‘kungkum’) di sungai (kali) atau “jaga kali”. Namun ada yang menyebut istilah itu berasal dari bahasa Arab “qadli dzaqa” yang menunjuk statusnya sebagai ” penghulu suci” kesultanan.
Masa hidup Sunan Kalijaga diperkirakan mencapai lebih dari 100 tahun. Dengan demikian ia mengalami masa akhir kekuasaan Majapahit (berakhir 1478), Kesultanan Demak, Kesultanan Cirebon dan Banten, bahkan juga Kerajaan Pajang yang lahir pada 1546 serta awal kehadiran Kerajaan Mataram dibawah pimpinan Panembahan Senopati. Ia ikut pula merancang pembangunan Masjid Agung Cirebon dan Masjid Agung Demak. Tiang “tatal” (pecahan kayu) yang merupakan salah satu dari tiang utama masjid adalah kreasi Sunan Kalijaga.
Dalam dakwah, ia punya pola yang sama dengan mentor sekaligus sahabat dekatnya, Sunan Bonang. Paham keagamaannya cenderung “sufistik berbasis salaf” -bukan sufi panteistik (pemujaan semata). Ia juga memilih kesenian dan kebudayaan sebagai sarana untuk berdakwah.
Ia sangat toleran pada budaya lokal. Ia berpendapat bahwa masyarakat akan menjauh jika diserang pendiriannya. Maka mereka harus didekati secara bertahap: mengikuti sambil mempengaruhi. Sunan Kalijaga berkeyakinan jika Islam sudah dipahami, dengan sendirinya kebiasaan lama hilang.
Dialah pencipta Baju takwa, perayaan sekatenan, grebeg maulud, Layang Kalimasada, lakon wayang Petruk Jadi Raja. Lanskap pusat kota berupa Kraton, alun-alun dengan dua beringin serta masjid diyakini sebagai karya Sunan Kalijaga.
Metode dakwah tersebut sangat efektif. Sebagian besar adipati di Jawa memeluk Islam melalui Sunan Kalijaga. Di antaranya adalah Adipati Padanaran, Kartasura, Kebumen, Banyumas, serta Pajang (sekarang Kotagede – Yogya). Sunan Kalijaga dimakamkan di Kadilangu -selatan Demak.
8. SUNAN MURIA atau Raden Umar Said
Ia putra Dewi Saroh – adik kandung Sunan Giri sekaligus anak Syekh Maulana Ishak, dengan Sunan Kalijaga Nama kecilnya adalah Raden Prawoto. Nama Muria diambil dari tempat tinggal terakhirnya di lereng Gunung Muria, 18 kilometer ke utara kota Kudus.
Gaya berdakwahnya banyak mengambil cara ayahnya, Sunan Kalijaga. Namun berbeda dengan sang ayah, Sunan Muria lebih suka tinggal di daerah sangat terpencil dan jauh dari pusat kota untuk menyebarkan agama Islam. Bergaul dengan rakyat jelata, sambil mengajarkan keterampilan-keterampilan bercocok tanam, berdagang dan melaut adalah kesukaannya.
Sunan Muria seringkali dijadikan pula sebagai penengah dalam konflik internal di Kesultanan Demak (1518-1530), Ia dikenal sebagai pribadi yang mampu memecahkan berbagai masalah betapapun rumitnya masalah itu. Solusi pemecahannya pun selalu dapat diterima oleh semua pihak yang berseteru. Sunan Muria berdakwah dari Jepara, Tayu, Juana hingga sekitar Kudus dan Pati. Salah satu hasil dakwahnya lewat seni adalah lagu Sinom dan Kinanti.
9. SUNAN GUNUNG JATI atau Syarif Hidayatullah
Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah diperkirakan lahir sekitar tahun 1448 M. Ibunya adalah Nyai Rara Santang, putri dari raja Pajajaran Raden Manah Rarasa. Sedangkan ayahnya adalah Sultan Syarif Abdullah Maulana Huda, pembesar Mesir keturunan Bani Hasyim dari Palestina.
Syarif Hidayatullah mendalami ilmu agama sejak berusia 14 tahun dari para ulama Mesir. Ia sempat berkelana ke berbagai negara. Menyusul berdirinya Kesultanan Bintoro Demak, dan atas restu kalangan ulama lain, ia mendirikan Kasultanan Cirebon yang juga dikenal sebagai Kasultanan Pakungwati.
Dengan demikian, Sunan Gunung Jati adalah satu-satunya “wali songo” yang memimpin pemerintahan. Sunan Gunung Jati memanfaatkan pengaruhnya sebagai putra Raja Pajajaran untuk menyebarkan Islam dari pesisir Cirebon ke pedalaman Pasundan atau Priangan.
Dalam berdakwah, ia menganut kecenderungan Timur Tengah yang lugas. Namun ia juga mendekati rakyat dengan membangun infrastruktur berupa jalan-jalan yang menghubungkan antar wilayah.
Bersama putranya, Maulana Hasanuddin, Sunan Gunung Jati juga melakukan ekspedisi ke Banten. Penguasa setempat, Pucuk Umum, menyerahkan sukarela penguasaan wilayah Banten tersebut yang kemudian menjadi cikal bakal Kesultanan Banten.
Pada usia 89 tahun, Sunan Gunung Jati mundur dari jabatannya untuk hanya menekuni dakwah. Kekuasaan itu diserahkannya kepada Pangeran Pasarean. Pada tahun 1568 M, Sunan Gunung Jati wafat dalam usia 120 tahun, di Cirebon (dulu Carbon). Ia dimakamkan di daerah Gunung Sembung, Gunung Jati, sekitar 15 kilometer sebelum kota Cirebon dari arah barat.
D. Kesultanan Di Asia Tenggara
Nusantara adalah daerah yang merujuk ke kelompok Kepulauan Melayu Groves yang mencakup thailand, Malaysia, borneo (Brunei, sarawak, dan sabah, borneo), SELURUH KEPULAUAN INDONEISA TERMASUK TIMOR LESTE DAN SELURUH KEPULAUAN FILIPINA. Kata "homeland" sendiri signifikan dalam kepulauan Jawa.
Sebelum kedatangan Islam ke Asia Tenggara, sudah ada beberapa pemerintahan di nusantara seperti Majapahit, Sriwijaya, langkasuka, pajajaran kutai, shailendra, dll, dll. Sebagian besar raja mengikuti agama hindu dan beberapa agama Buddha dan animism menganuti trust.
Peradaban Hindu-Buddha sudah ada di Asia Tenggara sebelum kedatangan Islam. Ini terbukti sebagai konstruksi kuil kuil seperti candi borbodur, candi prambanan dan candi bujang valley. Selain itu, malay adalah yang paling dominan di nusantara yang dipengaruhi oleh Sansekerta, yang merupakan bahasa yang digunakan dalam agama hindu hindu.
Kemudian lay kata-kata seperti matahari, bumi, cakrawala, bulan, arkeologi, milky, kaisar, dan sebagainya. Ketika usia sebelum islam, raja dianggap sebagai Tuhan sampai elemen pendewaan melawan raja.
Setelah Islam datang ke nusantara, satu per satu, Kerajaan Hindu-Buddha runtuh dan setelah itu kerajaan Islam mulai tertegak di Asia Tenggara. Antara Metode yang diberikan oleh pendeta-Pendeta Islam di Asia Tenggara adalah proses islamisasi
Pertama, mendakwahi kings langsung sebagaiman Allah Abdul Aziz to be parameswara;
Pangeran kedua yang kedua dari raja raja dan kerabat sebagai islamisasi pangeran pangeran pajajaran agama hindu dan.
Para Pendeta ketiga mendakwahi itu sendiri mendirikan sebuah kerajaan. A Baru Islam Sultan Syariful Hashim yang mendirikan Kerajaan Sulu. Pendeta-Pendeta Islam yang berasal dari dunia arab, India dan cina juga menunjukkan yang luar biasa bahkan raja tertarik pada pribadi mereka. Telah menjadi masyarakat yang taat nusantara memiliki teguh pada raja.
Kemudian, dengan islamisasi raja, maka banyak hal yang sama dengan agama Islam. Jadi, tidak heran jika bagian dari sejarawan mengatakan bahwa wilayah di Asia Tenggara adalah provinsi yang paling mudah menerima proses islamisasi di dunia.
Setelah Pemerintah-Pencipta Kekaisaran Islam, nick king dikonversi ke sultan. Sarjana Ulama-ulama menjadi penasehat sultan dan juga dengan sultan dan istana. Hal ini karena sultan baru islam? Pasti butuh bimbingan yang kuat dari para ulama. Sejak saat itu, Sultan-Sultan Di Nusantara mulai berkiblatkan pola pemerintahan Islam.
Para ulama terlalu sering mengatakan kepada sultan tentang contoh kepemimpinan Islam baik di messenger, usia khulafa ' Ar Rasyidin atau setelah kedua usia. Dengan sistem ini, pemerintah mulai honched dalam lembaga Islam Kerajaan Di Asia Tenggara.
Tidak diragukan lagi, kebesaran sultan atau pemerintah kerajaan Islam yang lain di seluruh dunia luar nusantara sebagai khalifah Umar Abdul Aziz, Al Sultan Salahuddin Ayyubi, Sultan Muhammad Al Fatih, aurengzeb dan sebagainya. Namun, Sultan-Sultan Di Nusantara juga memiliki kehebatan dalam kemampuan keterampilan dan ketaqwaan.
Bahkan, dalam arti, Sultan Di Nusantara yang wajar dikagumi karena mereka dapat mengelola wilayah ini terdiri dari pulau pribadi yang logis lebih sulit dari pengurus daratan yang luas di samping menerima tantangan dan mengancam penjajah barat seperti Portugis, Spanyol, Belanda, dan Bahasa Inggris. Selain itu, sejauh ini mayoritas masyarakat di nusantara masih tetap memeluk agama islam bahkan indonesia menjadi negara yang memiliki muslim yang paling padat di dunia. Sepertinya penjajah-penjajah barat gagal untuk menuntut posisi islam di Asia Tenggara.
Apakah faktor yang menembak islam keras menggugat di Asia Tenggara? Tidak ada yang lain tidak, sultanlah yang merupakan salah satu faktor terpenting dalam menjaga iman di masyarakat kekukuhan nusantara. Ada beberapa yang tidak mengkritik pernyataan ini mengatakan jika itu bukan karena tuhan memungkinkan segalanya untuk terjadi, itu tidak terjadi. Ya, benar, dengan izin Allah, melalui kekuatan dan peran sultanlah, membuat Islam keras menggugat di wilayah Asia Tenggara.
Namun, yang aneh, nama mereka tenggelam dari catatan sejarah tidak seperti Sultan Sultan-kebenaran dari benua yang lainnya seperti nusantara merong mahawangsa lebih diangkat dari mereka. Selain itu, Sultan-Sultan Agama Islam sih, lebih baik dikenal oleh sifat ketidakadilan karena masyarakat kita sudah terbiasa dengan cerita seperti mahmud shah yang menghukum membunuh di atas hang tuah tanpa asal cek dan sultan mahmud mangkat dijulang membunuh istri Sri Megat Rama hanya untuk mengambil seulas buah cempedak dari istana taman.
E. Kehidupan dalam Aqidah dan Perkembangannya
di Nusantara
v Kehidupan dalam
Aqidah
Sebelum Islam masuk ke bumi
Nusantara, sudah terdapat banyak suku bangsa, organisasi pemerintahan, struktur
ekonomi, sosial dan budaya di Nusantara yang berkembang. Semua itu tidak
terlepas dari pengaruh sebelumnya, yaitu kebudayaan nenek moyang (animisme dan
dinamisme), dan Hindu Budha yang berkembang lebih dulu daripada Islam.
Aqidah Islam itu
dasar-dasarnya yang memerintahkan menjujung tinggi kepribadian dan meningkatkan
harkat dan martabatnya, menghapuska kekuasaan kelas rohaniwan seperti Brahmana
dalam sistem kasta yang diajarkan Hindu. Masyarakat diyakinkan bahwa dalam
Islam semua lapisan masyarakat sama kedudukannya, tidak ada yang lebih utama
dalam pandangan Allah SWT kecuali karena takwanya. Mereka juga sama didalam
hukum, tidak ada yang diistimewakan meskipun ia keturunan bangsawan. Dengan
demikian semua lapisan masyarakat dapat hidup rukun, bersaudara,
bergotong-royong, saling menghargai, saling mengasihi, bersikap adil, sehingga
toleransi Islam merupakan ciri utama bangsa ini yang dikenal dunia hingga
dewasa ini.
Selain itu aqidah sufi kaum
muslimin juga ikut membantu memasyarakatkan Islam di Indonesia, karena memiliki
banyak persamaan dengan kepercayaan kuno indonesia, yang cenderung menghargai
pada pandangan dunia mistik. Seperti kepercayaan pada tiga dewa; kecantikan,
kesenian, dan kemahiran,yang diwariskan hindu, yang dasarnya animisme.
Seperti halnya kondisi
masyarakat daerah pesisir pada waktu itu, bisa dikatakan lebih maju daripada
daerah lainnya. Terutama pesisir daerah pelabuhan. Alasannya karena daerah
pesisir ini digunakan sebagai pelabuhan dan pusat perdagangan. Penduduk pesisir
tekena percampuran budaya (akulturasi) dengan pedagang asing yang singgah.
Secara tidak langsung, dalam perdagangan yang dilakukan antara keduanya, mereka
menjadi mengerti kebudayaan pedagang asing. Pedagang asing ini seperti pedagang
dari Arab, Persia, China, India dan Eropa.
Berbeda dengan daerah
pedalaman yang lebih tertutup (konservatif) dari budaya luar. Sehingga mereka
lebih condong pada kebudayaan nenek moyang mereka dan sulit menerima kebudayaan
dari luar. Awalnya Islam masuk dari pesisir kemudian menuju daerah pedalaman.
Masuknya Islam masih sudah terdapat kerajaan-kerajaan bercorak Hindu Budha yang
masih eksis, diantaranya adalah kerajaan Majapahit dan kerajaan Sriwijaya.
Selain itu terdapat kerajaan-kerajaan kecil yang tidak tersentuh oleh pengaruh
Hindu dari India. Kerajaan-kerajaan di Sulawesi misalnya Gowa, Wajo, Bone dan
lainnya. Kerajaan-kerajaan di Sulawesi tidak menunjukkan adanya pengaruh Hindu.
Contohnya dalam penguburan pada masyarakat Gowa masih berdasarkan tradisi nenek
moyang, yaitu dilengkapi dengan bekal kubur.
Hindu Budha lebih dulu masuk
di Nusantara daripada Islam. Islam masuk ke Nusantara bisa dengan mudah dan
lebih mudah diterima masyarakat pada waktu itu dengan berbagai alasan. Pertama,
situasi politik dan ekonomi kerajaan Hindu, Sriwijaya dan Majapahit yang
mengalami kemunduran. Hal ini juga disebabkan karena perluasan China di Asia
Tenggara, termasuk Nusantara.
v Perkembangan
Islam di Nusantara
1)
Perkembangan Islam di Sumatera.
a)
Kerajaan Samudra Pasai.
Samudra Pasai muncul pada
pertengahan abad 13, kerajaan pertama di Indonesia. Letaknya di pesisir timur
laut Aceh sekarang kabupaten Lhokseumawe.
b)
Kerajaan Aceh.
Berdiri
pada tahun 1514 diujung Pulau Sumatera, pendirinya Sultan Ali Mugayat Syah,
mengalami kejayaan pada pemerintahan Sultan Iskandar Muda menjalin kerjasama
dengan kerajaan Turki Usmani (Ottoman). Setelah Sultan Iskandar Muda, pemerintahan
kerajaan berturut-turut dipimpin oleh : Sultan Iskandar Sani, Sultan (Ratu)
Syafiuddin, Tajul Alam, Sultanah Sri Naqoitudin Nurul Alam, Sultanah Inayah,
dan Sultanah Kamalat Syah.
2)
Perkembangan Islam di Jawa.
Perkembangan Islam di Jawa
tidak bisa dilepaskan dari peranan Wali Songo adalah sebagai berikut :
Ø Maulana Malik
Ibrahim/ Maulana Maghrib/ Syeh Magribi.
Ø Sunan Ampel.
Ø Sunan Bonang.
Ø Sunan Giri.
Ø Sunan Drajat.
Ø Sunan Kalijaga.
Ø Sunan Kudus.
Ø Sunan Muria.
Ø Sunan Gunung
Djati.
Disamping Wali Songo penyebar agam Islam di
Jawa tidak terlepas dari peranan kerajaan Islam sebagai berikut:
a.
Kerajaan Demak.
b.
Kesultanan Pajang.
c.
Kerajaaan Mataram.
d.
Kerajaan Cirebon.
e.
Kesultanan Banten.
3)
Perkembangan Islam di Sulawesi.
Masuknya Islam di Sulawesi
tidak terlepas dari peran Sunan Giri di Gresik, hal ini karena Sunan Giri
mendirikan pondok pesantren yang banyak muridnya dari luar jawa termasuk dari Sulawesi.
Adapun masuknya Islam di Sulawesi ada 2 cara:
1.
Tidak resmi: Interaksi pedagang setempat dengan pedagang muslim di
luar Sulawesi.
2.
Resmi : Penerimaan Islam dilakukan oleh Raja Gowa dan Tallo, Sultan
Alaudin yang telah masuk Islam tahun 1605.
4)
Perkembangan Islam di Kalimantan.
Pada abad ke-16 Islam mulai
memasuki kerajaan Sukadana. Pada tahun 1509 Kerajaan Sukadana resmi menjadi
kerajaan Islam. Kerajaan Islam Banjar, di bagian selatan pulau Kalimantan tahun
1926. Tokoh yang berjasa dalam pengembangan Islam di Sulawesi adalah Pangeran
Antasari atau Sultan Amirudin Khalifatul Mukminin.
5)
Perkembangan Islam di Maluku dan Irian Jaya.
Penyebaran agama Islam di
Maluku tidak terlepas dari jasa para santri Sunan Drajat yang berasal dari
Ternate dan Hitu sejak abad ke-15. Di Maluku ada 4 kerajaan Islam : Ternate,
Tidore, Bacan, Jailolo. Tokoh yang berjasa dalam penyebaran Islam : Sultan
Zainal Abidin berhasil mengembangkan agama Islam ke Maluku dan Irian Jaya
bahkan sampai Filipina.
6)
Perkembangan Islam di Nusa Tenggara.
Di Nusa Tenggara Islam
pertama kali diterima oleh suku Sasak antara tahun 1840-1850 penyiaran Islam di
daerah ini dilakukan oleh para mubaligh dari Makasar. Di Pulau Bali muslim
terdapat di Singaraja, Buleleng dan Siririt.
Sebab-sebab Islam cepat berkembang di Indonesia
Dalam waktu yang relative
cepat, ternyata agama baru ini maksudnya agama Islam dapat di terima dengan
baik oleh sebagian besar lapisan masyarakat Indonesia, mulai dari rakyat jelata
hingga raja-raja. Ada beberapa hal yang menyebabkan agama Islam cepat
berkembang di Indonesia. Menurut Dr. Adil Muhyiddin Al-Allusi, seorang penulis
sejrah Islam dari timur tengah, dalam bukunya Al-Urubatu wal Islamu fi Janubi
Syarqi Asia alhindu wa Indonesia, menyatakan bahwa ada 3 faktor yang
menyebabkan Islam cepat berkembang di Indonesia, yaitu sebagai berikut:
Yaitu
aqidah Islam itu sendiri dasar-dasarnya yang memerintahkan menjujung tinggi
kepribadian dan meningkatkan harkat dan martabatnya, menghapuska kekuasaan
kelas rohaniwan seperti Brahmana dalam sistem kasta yang diajarkan Hindu. Masyarakat diyakinkan bahwa
dalam Islam semua lapisan masyarakat sama kedudukannya, tidak ada yang lebih
utama dalam pandangan Allah SWT kecuali karena takwanya. Mereka juga sama
didalam hukum, tidak ada yang diistimewakan meskipun ia keturunan bangsawan.
Dengan demikian semua lapisan masyarakat dapat hidup rukun, bersaudara,
bergotong-royong, saling menghargai, saling mengasihi, bersikap adil, sehingga
toleransi Islam merupakan ciri utama bangsa ini yang dikenal dunia hingga
dewasa ini.
Selain itu aqidah sufi kaum muslimin juga ikut
membantu memasyarakatkan Islam di Indonesia, karena memiliki banyak persamaan
dengan kepercayaan kuno indonesia, yang cenderung menghargai pada pandangan
dunia mistik. Seperti kepercayaan pada tiga dewa; kecantikan, kesenian, dan
kemahiran,yang diwariskan hindu, yang dasarnya animisme.
Animisme merupakan dasar dan pandangan agama
kuno indonesia, yang berlandaskan pada ide bahwa semua pergolakan alam
merupakan akibat dari pekerjaan kekuatan gaib yang sangat hebat, dan sebagian
dapat dijinakkan dan diturunkan kemarahannya dengan cara-cara tertentu.
2.
Faktor politik
Faktor politik yang diwarnai
oleh pertarungan dalam negeri antara negara-negara dan penguasa-penguasa
indonesia, serta oleh pertarungan negara-negara bagian itu dengan pemerintah
pusatnya yang beragama hindu. Hal tersebut mendorong para penguasa, para
bangsawan dan para pejabat di negara-negara bagian tersebut untuk menganut
agama Islam, yang dipandang mereka sebagai senjata ampuh untuk melawan dan
menumbangkan kekuatan hindu, agar mendapat dukungan kuat dari seluruh lapisan
masyarakat. Hal itu dapat dibuktikan hingga kini, bahwa apabila semangat
keIslaman dibangkitkan ditengah-tengah masyarakat indonesia, baik di sumatra,
jawa, maupun kepulauan indonesia lainnya, dengan mudah sekali kekuatan dan
semangat keIslaman itu akan bangkit serentak sebagai suatu kekuatan yang
dahsyat.
3.
Faktor ekonomis
Faktor
ekonomis, yang pertama di perankan oleh para pedagang yang menggunakan jalan
laut, baik antar kepulauan indonesia sendiri, maupun yang melampaui perairan
indonesia ke cina, india, dan teluk arab/parsi yang merupakan pendukung
utamanya, karena telah memberikan keuntungan yang tidak sedikit sekaligus
mendatangkan bea masuk yang besar bagi pelabuhan-pelabuhan yang disinggahinya,
baik yang menyangkut barag-barang yang masuk maupun keluar.
Ternyata orang-orang yang
terlibat perdagangan itu bukan hanya para pedagang, tetapi diantara mereka
terdapat para penguasa negara-negara bagian, pejabat negara dan kaum bangsawan.
Karena perdagangan melalui lautan indonesia dan india hampir seluruhnya
dikuasai pedagang arab, maka para pedagang indonesia yang terdiri dari para
pejabat dan bangsawan itu, yang bertindak sebagai agen-agen barang indonesia yang
akan dikirim keluar dan sebagai penyalur barang-barang yang masuk keindonesia,
banyak berhubungan dengan para pedagang muslim arab yang sekaligus mengajak
mereka kepada agama baru itu. Menurut riwayat, sultan pasai yang muslim itu mau
membuka pasar-pasarnya bagi penguasa kerajaan malaka asalkan mereka bersedia
menganut agama Islam.
Demikian perdagangan anatara
keperluan indonesia barjalan pesat sekali, sehingga Islam berhasil mencapai
irian atau papua, sementara orang-orang hindu bertahan di bali dan lombok
barat.Sesungguhnya pendapat yang berpendapat bahwa faktor ekonomis dan politis
merupakan penyebab utama tersebarnya Islam di indonesia, seperti yang dipegang
Dr. J. C. Van Leur, dengan menekankan pada peran dan pengaruh kaum aristokrat
dan pihak penguasa, telah melupakan kemampuan istimewa Islam dalam mengadakan
perbaikan dengan sistem perdamaiannya yang persuasif yang dalam waktu tidak
lama dapat diterima dan serasi dengan pola kehidupan masyarakat indonesia.
F. Tata Cara Ibadah, Adaptasi, dan Contohnya
v Cara Ibadah
atau penyebaran Islam di Nusantara yaitu:
a)
Melalui jalur perdagangan, yang mengikuti rute pelayaran dan
perdagangan. Peran semula para pedagang muslim dari Arab, Persi, India, dan
lain-lain, terbatas pada perdagangan tersebut. Kemudian diikuti dengan
penyampaian ajaran-ajaran Islam secara tidak langsung.
b)
Melalui jalur perkawinan, yaitu perkawinan antara pedagang dengan
anggota masyarakat tersebut, sehingga terbentuklah keluarga muslim yang besar.
Dan juga hasil pekawinan antara orang-orang Islam dengan golongan bangsawan
mempercepat proses pengislaman, karena secara tidak langsung dalam perdagangan
produk setempat, derajat seorang muslim di masyarakat naik karema adanya nilai
charisma keningratan/kebangsawanan.Dengan perkawinan itu juga mempercepat
terbentuknya keluarga muslim dan masyarakat muslim.
c)
Melalui jalur pendidikan yang dilakukan oleh guru-guru agama, kiai
dan ulama’. Jalur pendidikan dilakukan oleh para wali khsusnya di jawa dengan
membuka lembaga pendidikan pesantren atau pondok, mereka pulang kekampung
masing-masing atau berdakwah ketempat tertentu mengajarkan Islam. Misalnya
pesantren yang didirikan oleh Raden Rahmad di Ampel Denta Surabaya, dan
pesatren Giri yang didirikan oleh sunan Giri dan Gresik. Keluaran pesantren
Giri ini banyak yang di undang ke Maluku untuk melakukan dakwah Islam di sana.
d)
Melalui jalur tasawuf, sudah diterangkan bahwa bersamaan dengan
pedagang, datang pula para ulama, da’I, dan sufi pengembara. Para ulama atau
sufi itu kemudian ada yang diangkat menjadi penasihat atau pejabat agama
kerajaan. penyebaran Islam kepada masyarakat Indonesia melalui jalur tasawuf
atau mistik ini mudah diterima karena sesuai dengan alam pikiran masyarakat
Indonesia. Misalnya penggunaan ilmu-ilmu riyadhat dan kesaktian dalam proses
penyebaran agama Islam kepada penduduk setempat.
e)
Melalui jalur kesenian, datangnya Islam dan berkembangnya melalui
cabang seni yang ada seperti wayang. Di Jawa saluran yang banyak sekali dipakai
untuk penyebaran Islam adalah seni. Walisongo terutama Sunan Kalijaga,
mempergunakan banyak cabang seni untuk islamisasi. Kesenian-kesenian lain juga
media Islamisasi, seperti sastra (hikayat, babad, dan sebagainya), seni,
arsitektur, dan seni ukir.
f)
Melalui jalur politik, para penyebar Islam juga menggunakan
pendekatan politik dalam penyebaran Islam. Pengaruh politik raja sangat
membantu tersebarnya Islam di Indonesia.
Pengembangan Islam kepada rakyat menjadi lebih cepat karena adanya nilai
kharismatik pada raja-raja tersebut. Jadi perkembangan Islam tidak hanya
melalui golongan bangsawan, tetapi juga melalui rakyat secara keseluruhan.
Dengan kata lain, Islam bukanlah agama yang khusus untuk bangsawan, tetapi juga
untuk rakyat umum. Sebagaimana diketahui, melalui jalur politik para Walisongo
juga mendirikan Kerajaan Demak, Sunan Gunung Djati juga mendirikan Kerajaan
Cirebon dan Kerajaan Banten. Semuanya dilakukan untuk melakukan pendekatan
dalam rangka penyebaran Islam. Baik di Sumatera, Jawa maupun di Indonesia
bagian timur, demi kepentingan politik, kerajaan-kerajaan politik,
kerajaan-kerajaan Islam memerangi kerajaan-kerajaan non-Islam.
Kemenangan-kemenangan secara politik banyak menarik penduduk kerajaan yang
bukan Islam itu masuk Islam.
v Adaptasi atau
Penyesuaiannya di Nusantara
Islam
yang telah berinteraksi dengan budaya Arab, India, dan Persia dimatangkan
kembali dengan budaya Nusantara yang animis-dinamis dan Hindu-Budhis. Jika
ditarik pada wilayah lokal Jawa masyarakat muslim Jawa menjadi cukup mengakar
dengan budaya Jawa Islam yang memiliki kemampuan yang kenyal (elastis) terhadap
pengaruh luar sekaligus masyarakat yang mampu mengkreasi berbagai budaya lama
dalam bentuk baru yang labih halus dan berkualitas.
Asimilasi budaya dan
akomodasi pada akhirnya menghasilkan berbagai varian keislaman yang disebut
dengan Islam lokal yang berbeda dengan Islam dalam great tradition. Fenomena
demikian bagi sebagian pengamat memandangnya sebagai penyimpangan terhadap
kemurnian Islam dan dianggapnya sebagai Islam sinkretis. Meskipun demikian,
banyak peneliti yang memberikan apresiasi positif dengan menganggap bahwa
setiap bentuk artikulasi Islam di suatu wilayah akan berbeda dengan artikulasi
Islam di wilayah lain.
Akulturasi dan adaptasi
keislaman orang Jawa yang didominasi keyakinan campuran mistik konsep Hindu-Budha
disebut kejawen atau juga dinamakan agama Jawi. Sementara penyebaran Islam
melalui pondok pesantren khususnya di daerah pesisir utara belum mampu
menghilangkan semua unsur mistik sehingga tradisi Islam kejawen tersebut masih
bertahan. Pemeluk kejawen dalam melakukan berbagai aktivitasnya dipengaruhi
oleh keyakinan, konsep pandangan, dan nilai-nilai budaya yang berbeda dengan
para santri yang mengenyam pendidikan Islam lebih murni.
Sejak awal perkembangannya,
Islam di Indonesia telah menerima akomodasi budaya. Karena Islam sebagai agama
memang banyak memberikan norma-norma aturan tentang kehidupan dibandingkan
dengan agama-agama lain. Bila dilihat kaitan Islam dengan budaya, paling tidak
ada dua hal yang perlu diperjelas: Islam sebagai konsespsi sosial budaya, dan
Islam sebagai realitas budaya. Islam sebagai konsepsi budaya ini oleh para ahli
sering disebut dengan great tradition (tradisi besar), sedangkan Islam sebagai
realitas budaya disebut dengan little tradition (tradisi kecil) atau local
tradition (tradisi local) atau juga Islamicate, bidang-bidang yang “Islamik”,
yang dipengaruhi Islam.
Tradisi besar (Islam) adalah
doktrin-doktrin original Islam yang permanen, atau setidak-tidaknya merupakan
interpretasi yang melekat ketat pada ajaran dasar. Dalam ruang yang lebih kecil
doktrin ini tercakup dalam konsepsi keimanan dan syariah-hukum Islam yang
menjadi inspirasi pola pikir dan pola bertindak umat Islam. Tradisi-tradisi ini
seringkali juga disebut dengan center (pusat) yang dikontraskan dengan peri-feri
(pinggiran).
Tradisi kecil (tradisi local,
Islamicate) adalah realm of influence- kawasan-kawasan yang berada di bawah
pengaruh Islam (great tradition). Tradisi local ini mencakup unsur-unsur yang
terkandung di dalam pengertian budaya yang meliputi konsep atau norma,
aktivitas serta tindakan manusia, dan berupa karya-karya yang dihasilkan
masyarakat.
Dalam istilah lain proses
akulturasi antara Islam dan Budaya local ini kemudian melahirkan apa yang
dikenal dengan local genius, yaitu kemampuan menyerap sambil mengadakan seleksi
dan pengolahan aktif terhadap pengaruh kebudayaan asing, sehingga dapat dicapai
suatu ciptaan baru yang unik, yang tidak terdapat di wilayah bangsa yang
membawa pengaruh budayanya. Pada sisi lain local genius memiliki karakteristik
antara lain: mampu bertahan terhadap budaya luar; mempunyai kemampuan
mengakomodasi unsur-unsur budaya luar; mempunyai kemampuan mengintegrasi unsur
budaya luar ke dalam budaya asli; dan memiliki kemampuan mengendalikan dan
memberikan arah pada perkembangan budaya selanjutnya.
G. Karakteristik Ajaran Islam Nusantara
Islam pada awalnya berkembang
di daerah jazirah arab, kemudian dikembangkan ke seluruh dunia oleh tokoh-tokoh
muslim. menurut Hamka, Islam telah masuk
ke Nusantara sejak abad ke tujuh masehi. Hal itu dibuktikan terdapatnya
orang-orang arab di perairan Selat Malaka,selain itu kata beliau pada tahun 674 telah di jumpai
orang yang beragama Islam di daerah Jawa.
Hal tersebut membuktikan
bahwa Islam sudah berkembang di Nusantara sejak lama. Agama islam yang mudah
diterima, ajarannyapun tidak menyulitkan pemeluknya, membuat agama samawi yang
satu ini menjadi agama yang mayoritas di Nusantara. karena telah lama
berkembang di Nusantara,agama Islam telah menyatu dengan budaya local,hal-hal
yang selama ini dianggap sesat perlahan dibuang dan hal-hal yang dianggap
bermanfaat tetap di lanjutkan.
Karena tekstur tanah,ras,dan
budaya di Indonesia yang berbeda dengan
Saudi Arabia, agaknya terdapat perbedaan corak Islam yang dari Arab dengan
corak Islam yang di Tanah Air. Adapun corak tersebut merupakan bentuk adaptasi
Islam terhadap budaya setempat, karena kalau disamakan dengan corak islam dari asalnya
Arab,dikhawatirkan akan menyulitkan serta menyebabkan ketidaksependapatan.
Adapun beberapa karakteristik Islam di Nusantara
ialah:
a. Islam Nusantara adalah hasil produk dari
dakwah Wali Songo, yaitu proses pengislaman dengan cara damai melalui akulturasi
budaya dan ajaran islam . Salah satunya ialah penyebaran islam ketanah Jawa
oleh Wali Songo[1].
Dengan akulturasi budaya ,penyebaran islam di tanah jawa menjadi sukses karena
waktu itu masyarakat mempunyai antusias tinggi terhadap seni dan budaya.
b. Mazhab islam nusantara relative homogen
(sunni) yang lebih cocok untuk menggalang persatuan. Seandainya Indonesia yang
heterogen ini masih terkotak-kotak dalam
mazhab dan aliran komplikasinya lebih merepotkan.[2]
c. Islam nusantara berkembang atas peran dari
lembaga pendidikan seperti pesantren. ketika awal perkembangannya, banyak
didirikan pondok pesantren oleh guru-guru agama,kiai-kiai, dan ulama-ulama.
santri-santri yang telah melalui proses pengkaderan pada akhirnya akan mendapat
title sebagai ulama. Mereka yang telah melalui pendidikan kemudian menyebarkan
Islam ke seluruh pelosok negeri. Mereka
berdakwah kepada rakyat pribumi,kalangan atas maupun rakyat biasa.
d. Masyarakat islam di nusantara dalam bidang
fiqih mengikut salah satu mazhab fiqih yaitu Hanafi ,Maliki, Syafii dan Hambali.
Namun yang mayoritas adalah menganut mazhab Imam Syafii.[3]
e. Mayoritas masyarakat islam nusantara adalah
pengamal ajaran tasawuf karenanya tarekat berkembang pesat. Tokoh-tokoh tasawuf
yang menjadi panutan antara lain Imam Ghazali,, Syaikh Abdul Qadir Jailani,Imam
Syazili, dan lainnya yang populer di nusantara. Dari situlah islam nusantara
menjadi Islam toleran serta menghargai keberagaman yang merupakan cerminan
sifat dari tasawuf.
f. Kehadiran ormas-ormas Islam seperti NU dan
Muhammadiyah juga menciptakan kondisi yang baik untuk lahirnya sikap
pluralistis di dalam masyarakat. Sehingga konflik-konflik yang timbul dapat di
netralisir.[4]
H. Pendapat Masyarakat tentang Islam Nusantara
Memang terdapat perbedaan
pendapat dikalangan masyarakat tentang adanya istilah islam nusantara. Dari
beberapa pendapat tersebut pemakalah memilih beberapa pendapat yang mudah
dipahami.
a). Pro Islam Nusantara
Menurut ketua umum PBNU Said Aqil Siradj,istilah islam nusantara
merujuk pada fakta sejarah penyebaran Islam di Nusantara yang disebutnya “
dengan cara pendekatan budaya tidak dengan doktrin yang kaku dan keras”.[5]
hal ini tentu saja sesuai dengan cara dakwah Wali Songo yang menyebarkan islam
dengan menggunkan budaya masyrakatnya, alhasil islam diterima dikalangan
masyrakat. Pak said juga mengatakan bahwa islam nusantara didakwahkan untuk
merangkul budaya,melestarikan budaya ,menghormati budaya, bukan dengan cara menghapus budaya tersebut.
Islam nusantara yang dipelopori oleh NU,berpijak dari sejarah
penyebarannya di nusantara, yang terkenal dengan islam yang ramah, anti
radikal, inklusif dan toleran. model islam di Indonesia diyakini memiliki
perbedaan mendasar dengan islam arab yang selalulu konflik dengan sesama islam.
Pemikir islam Azyumardi Azra berpendapat model Islam Nusantara
atau Islam Nusantara dibutuhkan oleh masyarakat dunia saat ini karena
mengedepankan jalan tengah. Karena sifatnya tawasuth(moderat),islam Indonesia
tidak ekstrim kanan dan kiri ,selalu seimbang,toleran dan bisa hidup berdampingan dengan penganut
agama lain,serta bisa menerima demokrasi
dengan baik. Pendapat ini sesuai dengan
keadaan Indonesia yang heterogen namun memiliki sikap tasamuh, sehingga keadaan
menjadi terkontrol. Kalau seandainya
Indonesia terpusat pada satu
mazhab dan aliran maka hal ini akan merepotkan. Kota Beirut dan Baghdad
terombang-ambing karena pertentangan dua komunitas yang berbeda mazhab dan
aliran yakni sunni dan syiah.[6]
Dekan Fakultas Adab Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA)
Surabaya, Ghazali Said berpendapat, bahwa masa keislaman di nusantara sejak
lama justru memberikan kedamaian di tengah kemajemukan masyarakatnya. NU
kemudian mempelopori apa yang disebut ortodoksi baru dalam dunia islam.[7]
NU menyebutnya Islam Nusantara, Islam moderat dan toleran. kemajemukan
masyarakat tidak menjadi penghalang bagi islam untuk bergandeng dengan
demokrasi menjadi pemersatu bangsa Indonesia.
b) Kontra Islam Nusantara
Terdapat beberapa penolakan terhadap Islam nusantara ,antara
lain menganggap bahwa islam datang dari Arab bukan agama asli nusantara.
Padahal jika kita tengok ke dalam sejarahnya Islam adalah agama yang datang
dari langit diturunkan di tanah arab untuk seluruh dunia. Penolakan-penolakan
tersebut menganggap islam bernuansa nusantara kurang tepat untuk di terapkan.
Salah satu tokoh yang menolak konsep islam nusantara adalah Imam Besar Front
Pembela Islam (FPI),Habieb Rizieq.[8]
Itulah beberapa pro dan kontra sekitar konsep Islam
Nusantara. kita bisa menerimanya dengan
alasan tertentu, sebaliknya kita juga bisa menolaknya dengan alasan tertentu.
Namun terlepas dari semua itu islam di nusantara yang sifatnya moderat dapat
menetralisir konflik-konflik antar umat beragama di Indonesia.
[1] Riziem Aizid.2016.Sejarah Islam Nusantara,Yogyakarta:
DIVA Press.cet.1,hlm.37
[2]
Ali Masykur Musa,2014,Membumikan Islam
Nusantara: Respon Islam terhadap isu-isu actual,Jakarta: PT Serambi Ilmu
Semesta.hlm.181
[3] hasbullah bakri,1990,Pedoman Islam di
Indonesia,Jakarta: UI-Press.cet. 5.hlm.55
[4] Ali Masykur Musa,Membumikan Islam
Nusantara.183
[5] di akses dari www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2015/06/150614_indonesia_islam_nusantara , pada 23/5/17
[6] Ali Masykur Musa,Membumikan Islam Nusantara.hlm.181
[7] di akses dari http://nasional.kompas.com/read/2015/07/31/15330011/Potret.Islam.Nusantara, pada 23/5/17
[8] di akses dari http://newrasyba.blogspot.co.id/2015/09/opini-pro-kontra-islam-nusantara.html, pada 23/5/17
Tidak ada komentar:
Posting Komentar