Minggu, 03 Februari 2019

Akhlak: Perangai dan Faktor yang Mempengaruhi



Perangai dan Faktor yang Mempengaruhi

A.     Pengertian Perangai
Perangai memiliki beberapa pengertian, yaitu : sifat batin manusia yang mempengaruhi segenap pikiran dan perbuatannya. kalo dilihat dari persamaan katanya, perangai disebut juga tabiat, watak, sifat dan adat. Tabiat berarti  watak yang dimilki oleh seseorang ,sedangkan watak yaitu, sifat batin manusia  yang mempengaruhi segenap pikiran dan perbuatannya . sifat yaitu keadaan yang menurut kodratnya ada pada sesuatu (orang,hal, benda,dan sebagainya). adat yaitu cara atau kelakuan yang sudah menjadi kebiasaan.  
Perangai juga dapat diartikan sebagai akhlak, menurut yang dikemukakan olehImam al-Ghazali Akhlak ialah suatu sifat yang tertanam dalam jiwa yang dari padanya timbul perbuatan-perbuatan dengan mudah, dengan tidak memerlukan pertimbangan pikiran (terlebih dahulu).danM. Abdulah Dirroz juga berpendapat bahwa Akhlak adalah sesuatu kekuatan dalam kehendak yang mantap, kekuatan dan kehendak mana berkombinasi mambawa kecendrungan pada pemilihan pihak yang benar (dalam hal akhlak yang baik) atau pihak yang jahat (dalam hal akhlak yang jahat). Maka dapat kita simpulkan bahwa perangai / akhlak adalah tabiat atau sifat seseorang, yakni keadaan jiwa yang terlatih, sehingga dalam jiwa tersebut benar-benar telah melekat sifat-sifat yang melahirkan perbuatan-perbuatan dengan mudah dan spontan tanpa dipikirkan dan diangan-angankan lagi[1].
B.     Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perangai
a.    Adat kebiasaan
Adat menurut etimologi adalah aturan yang lazim diikuti sejak dahulu.[2] Menurut Jalaluddin Tunsam (seseorang yang berkebangsaan Arab yang tinggal di Aceh ). “Adat” berasal dari bahasa Arab   عادات, yaitu bentuk jamak dari عادَة (‘adah), yang berarti “cara”, “kebiasaan”[3]. Sedangkan secara terminologi adat adalah hukum-hukum yang ditetapkan untuk mengatur hubungan perorangan, masyarakat dan untuk mewujudkan kemaslahatan. dengan kata lain adat yaitu kebiasaan yang sudah melembah sehingga ia bersifat peraturan, suatu kebiasaan ketika dipandang sebagai kaidah (norma) ia akan meningkat menjadi adat. Menurut Nasraen, adat itu ialah suatu pandangan hidup yang mempunyai ketentuan-ketentuan yang objektif, kokoh dan benar, serta mengandung nilai mendidik yang besar terhadap seseorang dalam masyarakat[4].
Adat dimulai dengan kebiasaan-kebisaan yang secara terus-menerus dilakukan. kebiasaan kata dasarnya ialah biasa yang mendapat imbuhan ke-an yang artinya boleh, dapat atau sering. Kebiasaan terjadi sejak lahir. Lingkungan yang baik mendukung kebiasaan yang baik pula.kebiasaan  itu bisa timbul karena ada dalam diri pribadi seseorang secara fitrah. Kebiasaan yang melekat pada diri seseorang sukar untuk dihilangkan, tetapi jika ada dorongan yang kuat dalam dirinya maka ia dapat menghilangkannya. Sebagaimana terdapat dalam buku teori belajar, Plato dan Aristoteles dalam   teori Humanistiknya  mengatakan,bahwa kebiasaan disebabkan adanya daya-daya yang mereka miliki semakin kuat, individunya mudah untuk cenderung sebagai masalah yang melekat pada dirinya.
Perilaku dipengaruhi oleh kebiasaan (baik atau buruk), karena kebiasaan itu merupakan rangkaian perbuatan yang dilakukan dengan sendirinya, pada awalnya  masih dipengaruhi oleh akal pikiran. Kemudian semakin lama pengaruh pikiran itu akan semakin berkurang karena sering kali dilakukan .kebiasaan juga merupakan kualitas kejiwaan, keadaan yang tetap, sehingga memudahkan pelaksanaan perbuatan.
Semua perbuatan baik dan buruk itu menjadi adat kebiasaan kerena adanya kecendrungan hati terhadapnya dan menerima kecendrungan tersebut dengan disertai perbuatan berulang-ulang secukupnya.[5]Hal ini berarti bahwa adat secara tidak langsung akan mempengaruhi perangai ataupun perilaku seseorang karena adat memiliki aturan yang mesti  dilakukan dan mengikat suatu masyarakat.

b. Lingkungan dan Genetika

Lingkungan ialah yang melingkupi tubuh yang hidup. Lingkungan manusia merupakan apa yang melingkunginya dari negeri, lautan, sungai, udara dan bangsa Lingkungan terbagi dua macam yaitu[6]:
1.         Lingkungan alam
Lingkungan alam telah ada dan menjadi perhatian para ahli-ahli  sejak zaman Plato sehingga sekarang ini, sampai akhirnya membawa pengaruh dalam kehidupan manusia. Ibnu Chaldun telah menulis dalam kitab pendahuluannya. “Maka tubuh yang hidup, tumbuhnya bahkan hidupnya tergantung pada keadaan  lingkungan yang ia hidup didalamnya”. Lingkungan alam ini ssperti : udara , cahaya, dan apa yang ada di sungai, serta di lautan yang semua itu sangat mempengaruhi dalam kesehatan penduduk dan keadaan mereka yang mengenai akal dan akhlak.
2.      Lingkungan pergaulan
Lingkungan pergaulan meliputi manusia, seperti lingkungan keluarga/rumah, sekolah, pekerjaan, teman pergaulan, pikiran – pikiran, adat istiadat, pendapat umum, bahasa, kesusastraan, kesenian, pengetahuan dan akhlak.Pada  lingkungan pergaulan sedikitnya terbagi menjadi 4 yang dapat mempengaruhi faktor tersebut yaitu :
a.        lingkungan keluarga
Lingkungan keluarga dipandang sebagai faktor penentu utama terhadap perkembangan anak. Karena keluarga menrupakan kelompok sosial yang pertama memperkenalkan nilai-nilai kehidupan
b.       Sekolah
Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal yang membantu membentuk akhlak/karakter siswa dan mengembangkan potensinya secara optimal. Hurlock (1986:322) mengemukakan bahwa sekolah merupakan faktor penentu bagi perkembangan kepribadiananak, baik dalam cara berfikir, bersikap, maupun berperilaku. Sekolah berperan sebagai subtitusi keluarga dan guru berperan sebagai subtitusi orang tua.
c.       Kelompok teman sebaya
Kelompok teman sebaya sebagai lingkungan social bagi anak mempunyai peranan cukup penting bagi perkembangan dirinya. Pengaruh teman sebaya terhadap anak bisa positif atau negatif. Berpengaruh positif, apabila para anggota kelompok itu memiliki sikap dan perilakunya positif, atau berakhlak mulia.
Manusia pada umumya lebih banyak terpengaruh pada “lingkungan alam”. Apabila ia telah mendapat sedikit kemajuan, lingkungan pergaulanlah yang menguasainya, sehingga ia dapat mengubah lingkungan atau menyesuaikan diri kepadanya. Contohnya ketika udara panas ia mengunakan pakaian tipis dan putih, agar dapat menolak hawa panas, dan membangun rumahnya menurut aturan tertentu dan dapat menyejukkan.
Walaupun manusia terpengaruh oleh lingkungan alam atau lingkungan pergaulan namun dengan akal ia dapat membatasi dan menentukan lingkungan yang cocok untuknya.
Hereditas merupakan totalitas karaktiristik individu yang diwariskan orang tua kepada anak, atau segala potensi (baik fisik maupun psikis) yang dimiliki individu sejak masa konsepsi sebagai pewarisan dari pihak orang tua melalui gen – gen.dapat dikemukan bahwa fungsi hereditas dalam kaitannya dengan perkembangan kepribadian adalah:
             a. sebagai sumber bahan mentah (raw materials) kepribadian seperti fisik, intelegensi dan temperamen.
          b. membatasi perkembangan kepribadian (meskipun kondisi lingkungan sangat kapasitas atau potensi hereditas), dan
                c. memengaruhi keunikan kepribadian.


c. Pendidikan dan Agama
 Dunia pendidikan, sangat besar sekali pengaruhnya terhadap perubahan perilaku, dan akhlak seseorang. Yang dimaksud dengan pendidikan disini ialah segala tuntutan dan pengajaran yang diterima seorang dalam membina kepribadian. Pendidikan itu mempunyai pengaruh yang besar dalam akhlak,  sehingga menjadi sebab atau faktor yang berpengaruh terhadap kebiasaan ataupun perangai seseorang.[7]
Sebagai gambaran, sebelum hendak menentukan pilihan yang ditetapkan, bantuan akal fikir sangat dibutuhkan dalam membantu menemukan pencerahan. Artinya, semakin banyak ilmu pengetahuan terserap oleh akal fikir, semakin banyak pula alternatif pilihan yang ditawarkan akal fikir kepada kehendak. Disinilah pendidikan berperan, lewat pengajaran dan transfer ilmu pengetahuan sebagai sesuatu yang berpengaruh terhadap perangai. Kemudian, kesucian qalb atau hati sebagai pengambil keputusan akhir, juga tidak kalah pentingnya. Disini peran spiritualitas yang merupakan bagian dari aktualisasi dalam agama.  Apakah pencerahan akal fikir, dengan lebih banyak serapan ilmu pengetahuan, atau kesucian qalb dengan lebih banyak pendekatan diri kepada Allah swt. Melalui dzikir, ialah yang menjadi tugas pendidikan untuk mencukupinya. Pendidikan, dengan demikian, adalah menjadi sebuah keniscayaan dalam ikut mempertemukan kerja akal dengan fikirnya dan kerja qalb atau hati dengan dzikirnya [8] . Sebagaimana, firman Allah swt. dalamQS. Az-Zumar [39] : ayat 9
أَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ آنَاءَ اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الْآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ ۗ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ

 (Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.

Artinya, aktivitas horizontal yang menyejukkan kehidupan akan terwujud, apabila aktivitas tersebu lahir dari hasil kerja fikir dan dzikir secara seimbang. Dengan kerja fikir saja, aktifitas horizontal hanya akan menjauhkan diri dari Allah swt. Dan hal ini akan mempersubur lahirnya perilaku menyimpang dalam kehidupan. Sebaliknya, dengan kerja dzikir saja, aktifitas horizontal tidak akan bersaing, dan hal ini hanya akan menjadikan menurnnya tingkat produktivitas dalam kehidupan. Pada dasarnya, keduanya antara pendidikan dan agama haruslah seimbang.
Pendidikan turut mematangkan kepribadian manusia sehingga tingkah lakunya sesuai dengan pendidikan yang telah diterimanya. Oleh karena tu, pendididikan akhlak perlu diintensifkan melalui berbagai macam metode pendidikan. Adapun pendidikan yang lazim diterima meliputi pendidikan formal di sekolah, pendidikan non formal diluar sekolah dan pendidikan di rumah yang dilakukan oleh pihak orang tua. Sementara itu pergaulan dengan orang-orang baik dapat dimasukkan sebagai pendidikan tidak langsung, karena berpengaruh pula bagi kepribadian.







x
[1] Zahrudin,  Pengantar Studi Akhlak, ( Jakarta: PT. Radja Grafindo Persada ,  2004 ) h. 93
[2]Drs.Peter Salim,M.A, Yenny Salim,B.Sc, Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer,(Jakarta: M.E. Press,edisi-3,2002).
[4]M. Yatimin Abdullah,Studi Akhlak,(Jakarta: Amzah,2007),hlm.85.

[5]Sahilun A. Nasir,Tujuan Akhlak,(Surabaya: al-Ikhlas),hlm.48. dinukil oleh Yatmin Abdullah,Studi Akhlak.

[6]Ahmad Amin,  Etika Ilmu Akhlak, ( Jakarta: Bulan Bintang,  1952) hlm.41
[7] Etika Islam, oleh Dr. Hamzah Ya’qub. Hal.82
[8] Akhlak Tasawwuf, oleh M.Hasyim Syamhudi 141

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Metode Tafsir : Tafsir Sahabat

PEMBAHASAN TAFSIR SAHABAT A. Pengertian Sahabat Sebagai Mufassir Tafsir Al-Qur’an telah tumbuh dimasa Nabi Saw. dan beliaulah pena...